KEHADIRAN SANTO YOSEF DALAM ZAMAN INI
(Sebuah renungan singkat untuk menyambut pesta Santo Yosef suami Maria)
I. Riwayat Singtkat Santo Yosef
Kisah tentang Yusuf/ Yosef dalam Kitab Suci tidak terlalu banyak. Nama Yusuf menjadi terkenal saaat dia terlibat menjadi pemeran utama dalam pentas kelahiran Yesus. Mateus dalam Injilnya menyebutkan bahwa Yusuf adalah seorang dari keturunan Daud. Ia memiliki sifat yang mulia yakni tulus hati. Dialah yang memberi nama kepada anak yang lahir di Betlehem, yaitu Yesus. Dengan ketulusan hatinya, Yusuf terpilih menjadi suami Maria ibu Yesus.
II. Yusuf Yang Tulus Hati
Menurut Mateus, Yusuf adalah orang yang tulus hati an tidak mau mencemarkan nama istrinya di muka umum. Ada dua kata yang perlu kita garis-bawahi di sini, yakni; tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama di muka umum. Kedua kata ini sangat kaya artinya untuk kita refleksikan saat ini.
Pertama, apa artinya tulus hati? Ada dua terminologi yang menjadi penghias untuk kata ini, yakni; tulus dan hati. Kata “tulus” bisa diartikan sebagai lawan dari kebohongan, tipuan, kemunafika an kepalsuan diri. Tulus dapat disamakan dengan kejujuran. Kata “hati” dapat dipahami sebagai tempat kekuatan-kekuatan vital manusia.
Dalam Perjanjian Baru kata ini ( hati) sering muncul dalam arti kiasan. Kata ini tidak mutlak melambangkan kehidupan afektif, melainkan sumber berbagai segi kepribadian manusia: tempat yang tersembunyi, batin, yang diperlawankan dengan wajah atau bibir, sumber pikiran-pikiran ( yang hampir searti dengan roh), iman, paham, kekerasan. Hati adalah pula pusat keputusan-keputusan yang menentukan, kesadaan maral, hokum yang tidak tertulis serta tempat pertemuan dengan Allah. Maka lewat pernyataan-pernyataan di atas, kita dapat mengatakan bahwa ketulusan hati itu adalah sifat atau kepribadian manusia yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan Allah yang tercetus dalam tindakan seseorang dalam interaksinya saatu dengan yang lain.
Kedua, apa artinya kalimat “tidak mau mencemarkan nama orang di muka umum”. Kata ini tidaklah asing bagi kita. Kata ini dapat kita samakan dengan artinya dengan kata “mencaci maki”. Mencaci maki berarti berbicara jelek tentang…., menyerang. Dalam Perjanjian Baru istilah ini menunjukkan kesengajaan dan serangan terbuka, sehinga kata ini agaknya hampir searti dengan menghina. Yusuf adalah orang yang tulus hati dan tidak mau menceeeemarkan nama orang di muka umum. Dengan kata lain, ia menolak arti sidfat-sifat negatip yang masuk dalam kedua kategori kata di atas.
Kalau kita melihat kedua sifat di atas yang dimiliki oleh Yusuf, maka ia adalah orang yang pantas menjadi pilihan Allah. Atau kita dapat mengatakan bahwa Yusuf adalah pribadi yang menyenangkan bagi orang lain. Dapat kita katakana dengan penuh percaya diri bahwa siappun yang bergaul dengan Yusuf pasti pastilah merasa nyaman dan bahagia. Mengapa? Karena dia adalah orang yang tulus hati dan mau menghargai dan menghormati oaring lain apa adanya. Dengan kata lai, Yusuf adalah pribadi yang menyenangkan sekaligus juga pribadi yang sangat menghargai hak dan martabat manusia. Menurut para ahli Psikologi, kedua kata di atas adalah kunci dalam menjamin relasi yang harmonis antar sesama.
Dalam membangun sebuah kebersamaan yang harmonis, Yusuf tidak pernah menghina orang lain. Dia adalah pribadi yang tenang an banyak berbuat kebaikan demi kelangsungan keharmonisan sebuah relasi, khusunya relasi sebuah keluarga. Penulis yakin bahwa apa yang ada dalam hati Yusuf, menghina (mencemarkan nama baik orang) di depan umum adalah pelanggaan hak asasi manusia. Menghina adalah tindakan seseorang yang tidak akan pernah menuntaskan sebuah persoalan, malahan penambah beban bagi orang lain. Maka kita tahu bahwa jikalau ada orang menghina sesamanya di depan umum, maka secara hokum positip orang itu pantas diganjar dengan kasus hokum pencemaran nama baik, sebab hal itu dipandang sebaai pelecehan hak martabat manusia.
III. Kehadiran Yusuf Untuk Zaman Ini
Kalau kita berbicara tentang kehadiran, aka kehadiran itu sangatlah mengenakkan orang lain. Karena sifatnya amat personal, maka kehadiran tidak bisa diwakilkan. Demikian oaring menyebutnya! Memang pernyataan di atas ada benarnya, sebab pribadi si A dalam kehadirannya tidak dapat digantikan oleh pribadi B. Mengapa? Karena bisa jadi kehadiran yang lain sangat menjengkelkan dan memuakkkan dan tidak mengenakkan.
Belajar dari Yusuf, kehadiran kita bisa menjadibermakna positif dan mengenakkan bagi orang lain, dengan kata lain bukan mengecewakan. Kehadiran Yusuf yang kita sebut sebagai pribadi mulia, dalam jaman ini sangatlah dibutuhkan. Banyak orang saat ini stress dan putus asa, oleh karena sering diakibatkan kekurangan perhatian satu dengan yang lainnya. Manusia telah dikuasai oleh egoismenya. Manusia sibuk dengan urusan ku dan diri ku. Orang lain alah mereka dan bukan bagian dari hidupku.
Ketika hal ini yang muncul, maka kitapun mulai menuai krisis kepercayaan satu dengan yang lain. Misalnya; Pemimpin tidak lagi bersahabat dengan bawahannya. Bawahan tidak lagi mendengarkan atasnnya. Dalam bahasa religius, ketaatan telah mati atau kehilangan rasanya. Ketaatan akan menjadi pemaksaan dan tekanan, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut pun menjadi nada negatip seperti: tidak mau, tidak enak, tidak nyaman dengan orang itu, dan tidak-tidak yang lain.
Sungguh sangat ironis bila hal ini mulai merasuki hidup komunitas hidup bakti kita. Hidup bakti yang terkenal sebagai gambaran eskatologis (masa yang akan datang), sangat tidak layak dimasuki virus di atas. Bila hal ini muncul dalam komunitas kita, maka percumalah semua harapan dan cita-cita Gereja. Komunitas yang teelah kita bangun di atas wadas iman yang kokoh, pelan-pelan akan aruntuh oleh karrrena kerrusakan mental kita. Dengan kata lain, sinergi dari komunitas kita telah pudar.
Istilah dan terjemahan dari kata ketulusan hati dan tidak mau mencemarkan nama orang di muka umum menghasilkan buah-buah kebaikan. Buah-buah kebaikan ini justru membawa dampak positip bagi orang lain, yakni “mengenakkan”. Mengenakkan orang lain adalah tugas kita. Siapa pun mereka yang kita jumpai, yang kita layani seharusnya merasakan enak. Enak berarti itu yang disenangi orang. Bila kita ingin disenangi orang lain jadilah pribadi yang enak. Bila anda tidak ingin disengangi jadilah racun yang mematikan. Bila anda menjadi racun semua orang akan menghindari anda.
Misalnya; seorang suster yang enak pribadinya akan disenagi orang lai. Karena ia disengai maka ia akan dicari. Mengapa? Karena di dalam dirinya terpancar buah-buah kebaikan yang tulus hati. Dengan kata lain, setiap orang akan merasa bahagia an bisa menemukan kehadiran Allah dalam dirinya. Dan begitu juga sebaliknya, seorang suster yang dihindari oleh sesamanya pantaslah dipertanyakan. Sebb bisa jai kehadiannya menjadi acun bagi orang lain.
Bila hal ini yang muncul, maka kita perlu menjadi Yusuf-Yusuf yang lain baginya. Kita harus memiliki semangat Yusuff yang tulus hati. Kita tidak boleh mencearkan nama baiknya di depan orang lain. Karena bila kita mulai mencemarkan nama baiknya, pada saat itu kita tidak menghormati martabatnya seebagai pribadi yang mulia. Kita jatuh dalam pangku penghinaan. Penghinaan adalah buah dari dosa.
IV. Kesimpulan
Sebentar lagi kita akan memasuki pesta Santo Yusuf suami Maria. Dalam suratnya, Mateus mengetengahkan kepada kita bahawa Yusuf adalah pribadi yang sangat mulia. Ia adalah orang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama orang lain di muka umum. Karena kepribadiannya yang mulia ini, kita dapat mengatakan bahwa dia adalah pribadi yang enak. Ia adalah pribadi yang pantas dijadikan sebagai teladan hidup bersama. Kehadirannya sangat menyenangkan hati orang karena ia berlaku tulus dan hormat terhadap martabat orang lain.
Maka, kita sebagai pengikut dan pencinta Santo Yusuf, hendaknya bisa menghidupkan dan melahirkan kembali Yusuf-Yusuf baru dengan kehadiran yang mengenakkan dalam relasi kita, baik itu di dalam komunitas maupun dalam karya pelayanan kita. Semoga! Salam.
Fr. Lucius Tumanggor, SVD.
(TOPER di Kaltim)
Senin, 09 Maret 2009
Langganan:
Postingan (Atom)