Kebebasan dan Penderitaan
by: Lucius Tumanggor, SVD
I. Pengantar
Sejak awal penciptaan Allah sudah membuat manusia istimewa dari ciptaan lainnya. Perbedaan itu sudah tampak disaat Allah mau menciptakan manusia. Perbedaan itu dapat kita lihat dalam kitab suci (kej 1) yang memberikan rumusan demikian; ketika Allah menciptakan ciptaan lain rumusannya demikian, “ berfirmanlah Allah: jadilah… maka jadilah…” (lih. Kej 1) namun ketika Allah hendak menciptakan manusia rumusannya sedikit berubah dimana dikatakan “ baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita supaya mereka berkuasa…..(kej 1:26-28). Dalam rumusan ini ada diskusi sebelum menciptakan manusia dan yang paling istimewa lagi bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan juga manusia diberi kebebasan untuk menguasai ciptaan-ciptaan lainya. Suatu kepercayaan yang luar biasa dari Allah untuk manusia.
Manusia sebagai ciptaan yang paling istimewa diberi-Nya kebebasan. Kebebasan untuk memelihara ciptaan. Kebebasan manusia itu adalah kebebasan yang merupakan kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak untuk bertindak demi kebaikan manusia dan demi kemuliaan Allah. Kebebasan itu harus senantiasa diarahkan kepada Allah (bdk KHK 1731). Allah mengharapkan dengan kebebasan manusia bertanggungjawab atas perbuatan sejauh ia menghendakinya. Allah tidak pernah menghendaki kebebasan manusia itu digunakan untuk mengatakan dan melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan baik dan buruk artinya kebebasan itu bukan untuk dipergunakan semaunya.
Dalam sejarah perjalanan hidup manusia, kebebasan itu ternyata disalahgunakan. Manusia tidak lagi menggunakan kebebasan untuk memelihara ciptaan melainkan untuk mengeksploitasi ciptaan dengan tanpa atauran akibatnya ciptaan rusak, ciptaan menderita. Kebebasan yang Tuhan berikan yang pada awalnya bertujuan untuk kebaikan manusia, ciptaan dan kemuliaan Allah berubah menjadi sumber penderitaan bagi ciptaan.
Dalam paper ini akan dibahas Penyalahgunaan kebebasan dan penderitaan yang bersumber dari penyalahgunaan kebebasan itu sendiri. Jadi penderitaan yang kami maksudkan disini hanyalah penderitaan sebagai akibat dari penyalahgunaan kebebasan manusia.
II. Kebebasan dan Penderitaan Dalam Sejarah
2.1. Kebebasan Dalam Sejarah
2.1.1. Menurut Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, pemahaman kebebasan bermula dari tindakan penyelamatan Yahweh dan dari tuntutan perjanjian yang mengangkat sejarah. Perjanjian Lama menunjukkan bahwa manusia mampu mengambil keputusan bebas, dan seringkali menghimbau pada kekuatan manusia untuk menentukan pilihan, karena itu perlu suatu sikap tanggung jawab dari manusia. Keyakinan akan kebebasan manusia ini secara implisit sudah tertera dalam penampakan Allah yang adalah kebebasan tertinggi.
Lebih lanjut, pandangan Kitab Suci tentang kebebasan dilatarbelakangi pemikiran tentang penahanan dalam penjara atau perbudakan. Para penguasa memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah (Kel 39:20); suatu bangsa yang dikalahkan akan diperbudak oleh bangsa yang mengalahkannya, atau menjadi tawanan perang oleh penakluknya, atau seperti Yusuf, dijual sebagai budak. Ketika Kitab Suci berbicara tentang pembebasan, di dalamnya terkandung pengertian tentang perbudakan sebelum pembebasan itu.
2.1.2. Menurut Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru, yang menjadi fokus perhatiannya bukanlah kebebasan asali manusia tetapi kebebasan manusia yang harus dibebaskan. Namun demikian, manusia tetap memiliki kebebasan asali yang diberikan oleh Allah. Kebebasan asali yang diberikan Allah kepada manusia selalu dikaitkan dengan karya penyelamatan Allah. Hal inilah yang menegaskan bahwa kebebasan asali itu adalah demi kebaikan. Allah sendiri melalui Putra-Nya membebaskan umat-Nya karena manusia jatuh ke dalam dosa. Pelayanan Kristus adalah pelayanan pembebasan. Rasul Paulus sering mengatakan bahwa Kristus membebaskan orang yang percaya, di sini dan kini, dari pengaruh-pengaruh yang bersifat merusak, yang dahulu memperbudak mereka, yakni dosa, penguasa yang kejam (Rm 6:18-23); dari hukum Taurat sebagai sistem keselamatan yang membangkitkan dosa (Gal 4:21, 5:1, Rm 6:14), dari kuasa kegelapan yang jahat (Kol 1:13), dari kepercayaan kepada ilah-ilah takhayul (1Kor 10:29), dari beban upacara-upacara agama Yahudi (Gal2:4). Dari semuanya itu, nampak bahwa Paulus ingin menegaskan, kebebasan dosa yang telah berakar (Rm 7:14; 23).
Kebebasan manusia dengan demikian adalah kebebasan yang harus dibebaskan, sebab manusia berada di bawah perbudakan dosa. Dengan kekuatannya sendiri manusia tidak bisa membebaskan dirinya. Hanya dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia itu bisa membebaskan dirinya sebab dalam Kristus Yesus, setiap manusia benar-benar dibebaskan dari dosa (Rm 8:1-4). Pembebasan membawa serta pengangkatan menjadi anak (Gal 4:5); mereka yang dibebaskan dari dosa menjadi anak-anak Allah dan menerima Roh Kristus sebagai Roh pengangkatan, yang memberikan jaminan bahwa mereka adalah sunguh-sungguh anak Allah dan pewaris-Nya (Gal 4:6, Rm 8:15).
2.1.3. Menurut Tradisi
Bapa Gereja melihat kebebasan dalam arti kehendak bebas manusia sebagai kehormatan yang diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan. Kebebasan manusia itu menjadi suatu bukti bahwa manusia juga menentukan keputusannya sendiri yang sejati.
Irenius mengatakan bahwa, “Manusia itu adalah makhluk berakal budi, dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia adalah tuan atas tingkah lakunya itu.” Menurut Agustinus, ketika manusia menyalahgunakan kehendak bebasnya, manusia kehilangan kehendak bebasnya dan dengan demikian juga kehilangan dirinya. Manusia adalah citra Allah dan diciptakan kepada kebaikan. Kebebasan itu hendaknya juga mengarah kepada kebaikan. Manusia yang kehilangan kebebasannya itu menjadi hamba dosa, dan dengan demikian manusia itu juga menyangkal jati dirinya sebagai citra Allah. Agustinus juga memahami kebebasan yang memiliki kaitan dengan soal rahmat, yaitu cinta kasih yang menggerakkan manusia dengan pasti dan bebas kepada Allah. Tanpa rahmat, kehendak manusia tidak mampu menginginkan yang baik, sebab kebebasan manusia sejak semula terluka karena dosa yang telah dibuat oleh manusia. Dan itulah yang melemahkan kehendak bebas manusia.
2.1.4. Menurut KV. II
Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “hanya secara bebas manusia dapat mengarahkan dirinya pada yang baik. Kebebasan ini sangatlah dihargai dan dituntut dengan tegas oleh manusia sekarang ini. Namun, seringkali kebebasan ini ditafsirkan secara salah, seakan manusia boleh bertindak sewenang-wenang asalkan bisa menyenangkan hatinya sekalipun keinginannya jahat. Namun demikian, kebebasan sejati adalah ciri yang paling jelas bahwa manusia adalah sungguh citra Allah. Allah sendiri telah berkenan membiarkan manusia mengambil keputusannya sendiri (Sir 15:15) supaya dengan rela ia mencari Allah, supaya manusia secara bebas mencapai kesempurnaan yang bulat dan bahagia bersama dengan Tuhan-Nya.
Martabat manusia menuntut supaya manusia bertindak menurut pilihannya yang diambil secara sadar dan bebas. Keputusan ini hendaknya berasal dari keyakinan pribadi dan bukan semata-mata dari nafsu buta belaka. Manusia hanya dapat mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah jika ia bebas dan dibantu oleh rahmat ilahi karena dosa-dosa telah melemahkan kebebasan itu. Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan kehidupannya di depan pengadilan ilahi tentang segala yang dikerjakannya, yang baik maupun yang jahat.
2.2. Penderitaan Dalam Sejarah
2.2.1. Menurut Perjanjian Lama
Pandangan Kitab Suci tentang penderitaan dilihat sebagai gangguan atas dunia ciptaan ini. Seluruh ciptaan diciptakan dalam keadaan baik dan bebas dari penderitaan (Kej 1:31). Sesudah dosa terjadi, maka penderitaan pun timbul dalam bentuk pertentangan, kesakitan, kebinasaan... dan maut (Kej 3:15-19). Beban penderitaan selalu dirasa berat oleh umat Allah (Kej 47:9; 2 Sam 14:14). Adanya penderitaan senantiasa menjadi persoalan karena dianggap didatangkan oleh Allah (Mzm 39:10), justru penderitaan harus dihubungkan dengan fakta kasih Allah, keadilan dan kebenaran-Nya (Mzm 73). Maka di tengah-tengah situasi seperti itu, manusia dipaksa untuk menentukan sampai di mana dia bisa hidup oleh iman.
Penderitaan kadang-kadang dapat dipandang sebagai hukuman yang dijatuhkan Allah atau ajaran guna memperbaiki cara hidup umat-Nya (Ams 3:12, Hak 2:22-3:6), atau untuk menguji maupun memurnikan manusia (Mzm 66:10, Yak 1:3, 12, 1 ptr 1:7) atau mendekatkannya kepada Allah dalam rangka ketaatan dan persekutuan yang baru bersama Allah ( Mzm 119:67). Penderitaan, jika dimengerti baik sebagai akibat dosa maupun sebagai suatu nilai, sebagai rintangan yang harus diatasi maupun sebagai sarana keselamatan, tidak bisa dipisahkan dari kebebasan manusia. Kebebasan manusia inilah yang harus mengambil keputusan tentang nilai positif atau negatifnya. Dalam PL, kebebasan dan penderitaan merupakan suatu misteri yang satu.
2.2.1. Menurut Perjanjian Baru
Penderitaan tidak dipandang sebagai tujuan itu sendiri, melainkan sebagai sarana kesempurnaan. Orang beriman mengambil bagian dalam penderitaan Yesus agar bisa mengambil bagian pada kemuliaan-Nya. (Rm 8:17).
Para penulis Perjanjian Baru memberi makna baru dari penderitaan, bahwa kasih Allah terlibat langsung dalam hidup manusia yang adalah ciptaan-Nya. Kristus menggenapi secara sempurna kehendak Allah dengan menjadi Hamba yang menderita. Penderitaan itu tidaklah timbul begitu saja sebagai akibat dari kesetiaan-Nya kepada Allah dalam melaksanakan panggilan-Nya, tetapi memang merupakan panggilan yang sesungguhnya yang mesti digenapi-Nya (Yes 53). Dalam penderitaan yang khas seperti itu, nampak makna baru yang menyatakan bahwa Satu Orang bisa menanggung derita dan menderita sebagai pengganti semua orang yang menjadi obyek penderitaan itu, dan sekaligus mewakili segenap orang yang mau menerima Satu Orang itu (lih Yes 53, 1 Ptr 2:24).
2.2.3. Menurut Tradisi
Para Bapa Gereja memandang penderitaan dalam kaca mata salib. Dan salib dipandang sebagai bentuk sempurna dari eksistensi kristiani. Salib ini juga ditemui dalam hidup sehari-hari, dalam penghayatan sakramen baptis dan dalam memenuhi dengan sabar perintah kasih. Menurut Yohanes Krisostomus, penderitaan mempunyai fungsi untuk memberi silih, menguduskan, memuliakan. Bagi Agustinus, penderitaan itu memperindah panorama kehidupan. Sebagaimana sebuah lukisan yang baik memiliki juga sisi yang kurang terang pada tempat yang sesuai, demikian juga segala sesuatu yang ada di dalam dunia. Kalau orang memperhatikan keseluruhannya, maka dunia ini indah dan harmonis, demikian juga halnya dengan dosa dan penderitaan di dalamnya. Memang, jika dosa dan penderitaan itu diperhatikan lebih lanjut akan merusakkan lukisan tersebut. namun dalam satu keseluruhan, adanya dosa dan penderitaan justru memperindah dan memberi warna kepada kehidupan.
Penderitaan sebenarnya adalah sesuatu yang berada di luar rancangan Allah tentang suatu dunia yang harmonis. Di dalam dunia yang diciptakan dapat saja terjadi hal-hal yang tidak direncanakan dan dikehendaki oleh Allah. Namun, sebagai Pencipta, Allah memiliki kesanggupan untuk memulihkan penyimpangan yang terjadi dalam hidup manusia. Dan tentunya diharapkan, dari itu semua manusia dapat belajar dan semakin mendalami rahasia ciptaan dan menekuni jalannya menuju pada Allah.
2.2.4. Menurut KV II
Konsili menjelaskan bahwa penderitaan membuat manusia menyerupai Kristus (AA 16). Lebih lanjut, Konsili melihat kaitan yang erat antara penderitaan dan eksistensi duniawi (LG 7). Bagi mereka yang mengalami penderitaan, Konsili mengajak dan menyerukan supaya mereka menyatukan diri dengan sengsara dan kematian Yesus demi kebaikan mereka, Gereja dan umat manusia (LG11).
III. Kebebasan dan Penderitaan
3.1. Kebebasan manusia
Kebebasan disebut sebagai sifat hakiki bagi manusia. Sebab kebebasan tidak dapat dikenakan kepada makhluk ciptaan lainnya. Kebebasan diperuntukkan bagi manusia agar manusia menjawab kasih Allah dan untuk hidup sesuai dengan kasih Allah itu sendiri. Dengan kata lain, Tuhan menganugerahi manusia kehendak yang bebas, sebab ia menghendaki agar manusia menyerupai diri-Nya, mencapai kesempurnaan, menjadi raja alam ini maupun dalam hatinya.
Dalam tulisannya, Nico Syukur Dister mengatakan bahwa kebebasan berarti manusia –berlawanan dengan binatang –merupakan makhluk yang tidak selesai. Ia menambahkan bahwa dengan memberikan kebebasan kepada manusia serta memanggil manusia kepada cinta kasihnya, Allah menjadi ikut bersama manusia menempuh perjalanan dan melibatkan diri dalam petualangan. Bentuk-bentuk kebebasan manusia bisa kita lihat dalam sejarah perjalanan manusia itu sendiri, seperti dalam Kebebasan manusia perjanjian lama dan perjanjian baru.
Kebebasan manusia Perjanjian lama
Dalam kehidupan perjanjian lama, kebebasan dihubungkan dengan system perbudakan atau penahanan dalam penjara. Dalam dunia kekuasaan para penguasa sering memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah (Kej 39:20). Dengan kata lain, suatu bangsa yang dikalahkan oleh bangsa yang kuat, bangsa tersebut akan menjadi tawanan perang dan budak.
Sebagaimana yang telah kita ungkapkan di atas bahwa kebebasan berarti kebahagiaan berdasarkan pembebasan dari perbudakan, memasuki kehidupan baru dan sukacita serta kepuasan yang tak mungkin diperoleh sebelumnya. Ketika bangsa yang diperbudak oleh bangsa yang kuat dan kini mereka mengalami suatu pembebasan dan bebas menikmati apa yang belum pernah dinikmati, maka hal ini biasanya disadari sebagai suatu anugerah dari Allah. Hal ini tidak diragukan lagi bahwa pernyataan di atas telah menjadi pengalaman bangsa Israel sebagaimana telah tercatat dalam peristiwa eksodus.
Dalam peristiwa eksodus, Allah membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir, supaya sejak itu Israel sebagai umat perjanjian-Nya melayani Dia (Kel 19:3). Menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana Allah memberi kenikmatan dalam pembebasan ini? Allah membawa orang-orang Israel masuk ke tanah yang berkelimpahan susu dan madu (kel 3:8) kemudian Allah menempatkan mereka di sana, memelihara mereka dalam kemerdekaan secara politis dan kemakmuran ekonomis, selama mereka menjauhi penyembahan berhalala dan memelihara hukum-hukum-Nya (Ul 28:1-14).
Melihat kenyataan ini, kita bisa tahu bahwa kemerdekaan orang-orang (bangsa) Israel tidak bergantung pada usaha-usahanya secara militer maupun politis melainkan terletak pada ketaatanNya kepada Allah. kemerdekaannya adalah anugerah ilahi, karunia Tuhan kepada umat pilihan-Nya sendiri yang tidak dapat dicapai berkat jasa mereka sendiri, dan kini tetap terpelihara hanya karena kemurahan-Nya yang tidak terputus-putus.
Kebebasan manusia Perjanjian baru
Pada jaman Yesus manusia mengalami ragam tekanan baik secara politis maupun secara budaya agama dan roh-roh jahat. Dari segi politik, orang-orang Yahudi mengalami tekanan dan intimidasi dari penjajahan bangsa Romawi. Mereka tidak bisa menentukan kebijakan mereka sendiri dan selalu di bawah kuasa bayang-bayang rejim Romawi. Melihat penjajahan kaum Romawi di daerahnya sendiri, muncul sekolompok garis keras yang ingin membebaskan diri dari intimidasi Romawi. Mereka adalah kaum Zelot yang memiliki ambisi dan dambaan untuk merdeka secara nasional dari penjajahan Roma.
Ketika Yesus datang dan mempromosikan diri sebagai pelayanan pembebasan. Ia memulainnya dengan memaklumkan diri-Nya sebagai penggenap dari Yes 61:1, “… Ia telah mengurapi aku…untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan” (bdk, Luk 4:16). Dengan menolak keinginan-keinginan orang Zelot, yang mendambakan kemerdekaan nasional dari penjajahan Roma, Kristus memaklumkan bahwa Ia telah datang untuk membebaskan Israel dari perbudakan kepada dosa dan iblis. Yesus berkata bahwa Ia datang untuk menjatuhkan “penguasa dunia ini”, orang kuat, dan untuk membebaskan tawanan-tawanannya (Yoh 12: 31).
Pengusiran setan (Mrk 3:22) dan penyembuhan (luk 13:16) adalah bagian dari karya pembebasan-Nya dari kuasa iblis. Kristus menunjukkan hal itu sebagai sebuah bukti positif bahwa kerajaan Allah sudah datang di tengah-tengah umat manusia. Kebebasan yang dialami oleh orang-orang adalah sebuah berkat dan anugerah Allah yang nyata lewat Kristus yang berbelaskasih.
3.2. Makna kebebasan bagi manusia
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa kebebasan mengandung makna pembebasan manusia dari perbudakan dosa. Manusia tidak lagi dikuasai oleh kedosaan dan tidak lagi menjadi milik dosa. Sebagaimana seorang budak–menurut hukum Roma–menjadi milik majikannya, dengan kebebasan mereka pun bebas dari hukum sejauh hukum itu menjadi pembantu dan antek dosa. (Gal 5:1;2:4; Rm 7:6). Kebebasan yang diterima oleh manusia tidak berarti bertindak sekehendak hati, sebab kebebasan yang demikian itu adalah sebenarnya perbudakan. kebebasan merupakan anugerah dari Allah yang diperuntukkan bagi manusia untuk saling mengasihi, dan melayani Allah dan Tuhan secara nyata (Rm 6:18.22).
3.3. Penderitaan manusia
Penderitaan dan sengsara selalu mengancam kehidupan manusia. Ancaman terhadap eksistensi manusia tidak pernah absen sejak kelahirannya. Banyak penyakit jasmani, kekecewaan dan malapetaka menyertainya hingga hari kematian. Demikian dalam seluruh sejarah umat manusia. Aneka kemajuan dalam segala bidang seringkali dibayar mahal dengan penderitaan.
Adanya penderitaan di dunia ciptaan ini dijadikan alasan paling kuat oleh para ateis untuk menyangsikan adanya Allah Yang Mahabaik dan sekaligus Mahakuasa. Sebab kalau Ia baik dan berkuasa, mengapa penderitaan dan malapetaka yang menimpa begitu banyak orang yang tak bersalah itu, tidak dicegah? Ataukah Allah itu baik? Atau, Ia memang baik tetapi kurang kuat? Dilema itu sudah diajukan oleh filsuf Epikuros pada abad ke-3 sM.
Fakta historis menunjukkan penderitaan telah menjadi pengalaman hidup manusia. Secara manusiawi kita dapat mengatakan bahwa Sang Pencipta sejak semula ikut “bersedih” atas penderitaan. Namun, tentu saja “kesedihan ilahi” itu tidak sama seperti kesedihan manusia. Mungkin dalam arti tertentu kita semakin mengetahui bahwa ada suatu solidaritas yang ditunjukkan oleh Allah terhadap manusia, yakni penderitaan antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan. Solidaritas ini memuncak dalam pengurbanan nyawa yang diterima oleh Yesus secara sukarela demi manusia yang dikasihi itu untuk membebaskan manusia dari segala penderitaan.
3.4. Makna penderitaan bagi manusia
Paus Yohannes Paulus II pernah mengemukakan bahwa penderitaan bukanlah hukuman, tetapi suatu kesempatan untuk membersihkan dosa-dosa kita; secara khusus diarahkan pada kebaikan sama saudara kita: sebagaimana Kristus yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang. Dengan Yesus Kristus di hadapan kita, berjalanlah kita dengan lebih bergegas, oleh karena Ia memberikan makna dan arah kepada semua kesusahan atau kepedihan kita.
Yesus telah mengubah secara radikal arti dan nilai dari penderitaan. Penderitaan tidak lagi sekedar tanda kerapuhan dan ketidakmampuan manusia, tetapi menjadi peralihan kepada pemulihan dan kepenuhan realisasi diri. Dengan penyerahan diri Manusia Allah terpenuhilah penyelamatan umat manusia. Ia telah menderita seperti manusia demi manusia. Dengan demikian, derita fisik ataupun moral yang dipersatukan dalam penderitaan Kristus, memiliki kesanggupan untuk mengubahnya dalam diri setiap manusia yang telah diperbaharui. (bdk, Salvifici Doloris, no.23).
Penderitaan mengandung suatu panggilan khusus keutamaan, yang harus dilaksanakan sendiri oleh manusia sesuai dengan kewajibannya. Dalam hal ini merupakan keutamaan ketekunan dalam melaksanakan apa saja yang membingungkannya dan merugikannya. Dengan berbuat demikian maka individu tadi memegang pengharapan, yang memelihara dalam dirinya keyakinan bahwa penderitaan tidak akan merampas martabatnya sebagai seorang manusia, suatu martabat yang erat berhubungan dengan kesadaran akan makna kehidupan. Sepanjang abad dan dari generasi ke generasi telah terlihat bahwa di dalam penderitaan tersembunyi suatu kekuatan yang khusus, yang menarik seseorang secara batin dekata kepada Kristus, suatu rahmat khusus. Berkat rahmat ilahi maka banyak orang kudus, seperti misalnya St. Fransiskus Asisi, St. Ignatius dari Loyola dan orang-orang lain, bertobat secara mendalam. sebagai akibat pertobatan semacam ini bukan hanya individu itu saja yang menemukan arti penyelamatan dari penderitaannya tetapi lebih-lebih ia menjadi orang yang sama sekali baru. Dia menemukan suatu dimensi baru, yang menyangkut seluruh hidup dan panggilannya. (bdk, salvifici doloris, no. 26).
Penderitaan juga mempunyai makna baru bagi orang-orang yang menjadi anggota tubuh Kristus. Mereka turut menderita dalam penderitaan Kristus (2 Kor 1:5, Mrk 10:39, Rm 8:17), dan menganggap dirinya wajib menanggung penderitaan atau terpanggil kepada penderitaan. Apapun bentuk penderitaan orang Kristen, hal itu dapat dianggap sebagai salib yang wajib dipikul dalam rangka mengikuti Yesus di jalan salib-Nya. Penderitaan Kristus pada hakikatnya adalah pada purna dan genapnya untuk membebaskan semua orang (Yes 53:4-6), Ibr 10:14). Penderitaan yang ditanggung oleh setiap pengikut Kristus dapat disebut menggenapkan apa yang belum tercakup dalam penderitaan Kristus (Kol 1:24). Ini semua karena kasih karunia, dan sama sekali bukan upaya keharusan untuk menebus dirinya sendiri. Dengan inilah kita dapat bersekutu dengan Dia dalam penderitaan-Nya.
IV. Kebebasan dan Penderitaan dalam Yesus Kristus
Salah satu pemberian Allah kepada manusia yang tidak pernah diambil Allah kembali adalah “kebebasan”. Allahlah yang memberikan kebebasan kepada manusia dan Allah sendiri tidak pernah mencabut kebebasan itu dari manusia. Allah memberikan kebebasan kepada manusia dengan tujuan baik namun dalam perjalanan waktu kebebasan itu disalahgunakan oleh manusia akibatnya manusia jatuh pada penderitaan. Manusia sadar bahwa kebebasan itu adalah miliknya sendiri dan tidak ada yang bisa menganggu-gungat kebebasan itu dari dirinya maka kebebasan dipergunakan seturut kemauannya. Manusia tidak sadar bahwa penyalahgunaan kebebasan itu bukan saja hanya membuat dirinya menderita tetapi juga ciptaan lainnya.
Penyalahgunaan kebebasan membuat manusia dan ciptaan lainnya menderita. Dan penderitaan ini bukan bukan sekedar membuat manusia itu “sakit” tetapi juga membuat manusia itu mati. Mati secara fisik dan mati secara rohani. Manusia mati karena manusia mengalami keterputusan hubungan dengan sesama dan Tuhan. “mati” menjadi tanda bahwa manusia dalam dirinya sendiri tidak pernah bisa membebaskan diri dari penderitaan yang di alaminya. Artinya penderitaan sebagai akibat penyalahgunaan kebebasan tidak mampu dipulihkan manusia sendiri akibatnya manusia kembali “berteriak minta tolong” kepada PenciptaNya.
Manusia berteriak minta tolong menjadi bukti bahwa manusia tidak mempunyai daya atau kemampuan apa-apa disaat manusia putus hubungan dengan Tuhan dan sesamanya. Kesadaran seperti ini muncul disaat penderitaan datang menimpa dirinya. Kesadaran akan ketidakmampuan membuat manusia tak berdaya, manusia goncang, manusia terpenjara dalam derita hidup. Inilah gambaran manusia yang menderita karena dosa. Rasul paulus dengan jelas berkata maut masuk ke dunia oleh dosa (Rm 5:12) dan Paulus menyebut maut sebagai upah dosa (Rm 1:32: 6:21: I Kor 15:56), dosa juga memimpin pada kematian (Rm 6:16) . Dan maut ini hanya boleh dikalahkan oleh Allah sendiri.
4.1. Yesus Kristus Sang Pembebas
4.1.1. Dalam Perjanjian Lama
Disaat manusia tidak berdaya untuk melepaskan diri dari penderitaan Allah menjalankan peran-Nya sebagai pembebas. Peran Allah sebagai pembebas sudah dimulai sejak jaman perjanjian lama walaupun pembebasan itu hadir secara defenitif pada jaman perjanjian baru. Dalam perjanjian lama Allah memperkenalkan diri sebagai pembebas yakni YHWH, Allah yang menempatkan diri dipihak orang yang dianiaya sambil menjadikan urusan mereka urusanNya . YHWH membebaskan manusia dari segala sesuatu yang membuat manusia itu menderita sebagai akibat dari penyalah gunaan kebebasannya seperti dosa, penyakit, maut, ketakutan dari kuasa setan, perbudakan, penindasan, pembuangan. Sehubugan dengan ini dalam Yes 41:14 sangat jelas dikatakan demikian” terdorong oleh keadilan dan belaskasihNya YHWH dalam perjanjiaanya mendampingi bangsanya (bdk Mzm 130) demi tercapainya damai sejahtera . Memang dengan melihat dosa dan kesalahan manusia, manusia tidak layak lagi untuk dibebaskan namun Allah tidaklah berpikir sebagaimana manusia berpikir.
4.1.2. Dalam Perjanjian Baru
Dalam perjanjian baru Allah sebagai pembebas nyata dalam diri PutraNya Yesus Kristus. Allah mengutus Yesus Kristus Puteranya ke dunia untuk melanjutkan misiNya yang menyelamatkan. Karena Allah tahu bahwa hanya Dialah melalui Putranya Yesus Kristus manusia dan dunia yang diciptakanNya bisa terbebas dari penderitaan. Terbebas bukan berarti sekedar sembuh dari penderitaan tetapi Allah dalam diri Kristus memulihkan manusia dan dilayakkan kembali menjadi anak-anak Allah. Karena itu penebusan Allah mengalir lewat pengurbanan diri PuteraNya yang juga rela menderita sengsara, wafat untuk membebaskan manusia dari belenggu penderitaan.
Dalam kerangka keselamatan manusia Tuhan “memakai” penderitaan untuk menyadarkan manusia dalam mempertahankan kemurnian imanya kepada Allah. Jadi penderitaan merupakan suatu sarana rahmat bagi bangsa manusia. Yesus mau melakukan ini tentu karena Yesus mengasihi manusia.
Yesus hadir di dunia ini adalah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu penderitaan yang diakibatkan oleh dosa. Manusia dibebaskan oleh Yesus dengan berpuncak pada pengurbanan diriNya di kayu salib. Dalam wafat dan kebangkitan Yesus di dalamnya nyata karya keselamatan Allah. Paulus mengatakan bahwa Yesus wafat karena dosa-dosa kita ( Gal 1:4; Rm 8:3) atau karna kita dan untuk kita (I Tes 5:10; Rm 6:6.8) biasanya dikatakan bahwa dengan kata-kata itu dimaksudkan wafat Yesus sebagai kurban untuk melunasi dosa-dosa kita . Pada Mrk sangat jelas dikatakan bahwa anak manusia datang dan memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang.( Mrk 10:45).
4.1.3. Salib Puncak Pembebasan dan Akhir dari Penderitaan
Kematian Yesus untuk membebaskan manusia menunjukkan kepada kita bahwa inti sari iman kita adalah sengsara wafat dan kebangkitan Yesus. Wafat Kristus adalah solidaritas Allah dengan manusia sampai kedalam kematian dan dalam kebangkitan Kristus kesatuan Allah dengan manusia itu dibawa kepada kepenuhannya. Salib dikatakan sebagai puncak pembebasan manusia adalah karena Yesus tidak tanggung-tanggung menjalankan misi penebusannya. Ia menyerahkan Nyawanya untuk memulihkan manusia. Dan darahnya ditumpahkan untuk menebus manusia. Kematian Yesus di salib menjadi akhir dari segala penderitaan manusia artinya bahwa salib menjadi titik balik bagi manusia untuk menemukan kembali kemanusiaanya yang sempat hilang dan tercemari oleh dosa.
Dengan salib-Nya yang mulia Kristus telah memperoleh keselamatan bagi semua manusia. Ia telah membebaskan manusia dari dosa yang membelenggunya. Kristus telah memerdekakan mereka (Gal 5:1). Di dalam Dia kita mengambil kebenaran yang memerdekakan (Yoh 8:32). Demikian santo Paulus mengajarkan sejak sekarang kita bermegah bahwa kita telah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm 8:21) (KHK 1741)
Di sini jelas bahwa salib telah sungguh-sungguh membebaskan manusia dari penderitaan. Salib menjadi titik balik lahirnya manusia baru karena kebebasan Allah tidak berhenti di dunia tetapi juga kelak di akhirat.
4.1.4. Kebangkitan Yesus Permulaan Hidup Baru
Jelaslah bahwa Yesus membebaskan manusia dari penderitaan dengan penderitaan. Karena itu kebangkitan Yesus dari kematian merupakan Permulaan hidup baru atau ciptaan baru (2 Kor 5:17), kebangkitanNya merupakan; dasar pengharapan kita akan penyelesaian serta penyempurnaan karya pembebasan Allah, kebangkitaNya juga menjadi jaminan ilahi bahwa Allah meneruskan kegiatan pembebasan sampai akhir .
Kebangkitan Yesus tidak hanya sekedar membebaskan manusia dari penderitaan selama manusia berada di dunia ini melainkan juga di akhirat kelak. Itu berarti bahwa kebangkitan itu memiliki daya yang luar biasa karena manusia dapat dibebaskan dari penderitaan sampai kepada kebangkitanya kelak. Hal ini hendak mengatakan bahwa peristiwa salib tidak berhenti pada saat itu juga melainkan sampai saat ini dan bahkan selama-lamanya.
4.2. Makna Kebebasan Dan Penderitaan dalam Iman Kristiani
Kebebasan manusia sering menyebabkan manusia tidak peduli untuk memenuhi kewajibannya sebagai ciptaan Allah, sebagai putra Allah yang terkasih dan sebagai manusia baru. Sampai saat ini akibat dari ketidaksetiaan manusia terhadap Tuhan manusia sendiri tidak sanggup membaca tanda-tanda jaman dengan mata iman. Ketidaksetiaan manusia kepada Tuhan terungkap dari penyalahgunaan kebebasan yang Tuhan berikan kepada manusia, akibatnya manusia itu sendiri menderita. Karena penderitaan manusia dan ciptaan, Allah dalam diri Putranya harus juga menderita guna membebaskan manusia dari penderitaanya itu. Di sini ada satu paradoks yaitu bahwa pemberontakan dan ketidaksetiaan manusia justru dibalas Tuhan dengan suatu janji keselamatan. Kelahiran, penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus merupakan puncak terpenuhinya janji keselamatan Tuhan kepada manusia.
Untuk jaman kita sekarang masih banyak orang yang menggunakan kebebasan semaunya tanpa memikirkan resikonya atau bahkan manusia tahu resiko perbuatannya tetapi ia menutup mata untuk itu. Ia tidak peduli dengan penderitaan yang akan terjadi sebagai akibat dari penyalahgunaan kebebasan itu.
Di tengah dunia modern manusia sering disilaukan oleh keuntungan materil, kemewahan hidup dan nafsu kuasa yang membutakan mata mereka terhadap penderitaan dan kesengsaraan sesamanya, lalu berpura-pura bermain dan berperan sebagai manusia sosial dengan sumbangan-sumbangan pesta dan resepsi. Semuanya dilakukan supaya dipuji, demi gengsi, agar menenangkan situasi. Inilah gambaran-gambaran penyalahgunaan kebebasan untuk jaman kita sekarang. Manusia tidak peduli akan penderitaan sesamanya dan ciptaan lainnya. Hal seperti itu bisa terjadi di saat manusia tidak bisa mengerti makna penderitaan Yesus dan sengsaranya. Jika manusia mengerti seharusnya manusia bisa menjadikannya sebagai sekolah.
Pederitaan Yesus dan sengsaraNya seharusnya menjadi suatu sekolah untuk berkorban dan menguduskan diri bagi manusia yang sadar. Manusia harus disadarkan bahwa sengsara dan penderitaan Yesus sesungguhnya adalah akibat dosa kita manusia. Meski berat sengsara yang di deritaNya di salib,Yesus tidak pernah mundur hanya demi keselamatan manusia. Maka manusia harus semakin paham bahwa sungguh jahatlah dosa itu. Karena itu sebagaimana santo Paulus menasehati umatnya supaya bertekun dalam iman setiap kali mereka mengalami penderitaan dan sengsara . Kita harus belajar untuk berani menghadapi godaan dan cobaan. Kita harus berani menjauhkan setiap kesempatan yang dapat membawa kita ke dalam dosa. Kita harus memanfaatkan kebebasan itu demi kebaikan manusia dan ciptaan dan demi kemuliaan Allah.
V. Penutup
Kita telah memahami apa arti dari kebebasan dan penderitaan dalam hidup manusia sebagai ciptaan Allah. Kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan-Nya tidak lain dan tidak bukan hanyalah semata-mata untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sebab dengan kebebasannya, manusia diinginkan untuk melayani dan mencintai ciptaan lainnya sehingga lewat kebebasannya Allah juga dimuliakan dan diagungkan. Namun, lewat sejarah kehidupan manusia, makna kebebasan rupanya tidak dipertanggungjawabkan oleh manusia sendiri sehingga muncul suatu realitas manusia yang tak terelakkan, yakni kelahiran sebuah penderitaan. Penderitaan lahir dari sebuah ketidak-bertanggungjawaban manusia akan makna kebebasan itu sendiri. Penderitaan menjadi silih berganti baik itu lewat perbudakan maupun lewat perhambaan kuasa si jahat lainnya. Dengan menderita, manusia kembali berteriak-teriak menyerukan pertolongan Allah dan tak henti-hentinya manusia memohon agar penderitaan dijauhkan dari kehidupan manusia. Oleh karena cinta-Nya yang amat besar terhadap manusia, Allah hadir dalam pribadi Yesus yang ikut menderita bersama manusia. Allah kini solider dan peduli pada penderitaan manusia. Dengan kesolideran-Nya yang maha besar, Yesus hadir dan membebaskan kembali penderitaan manusia dengan cara mengorbankan diri-Nya menyerahkan diri-Nya bagi manusia. Maka dengan semangat cinta yang ditunjukkan-Nya, Allah mengharapkan kembali kesetiaan dan hormat dari manusia.
Daftar Pustaka
Dister, Nico Syukur, Teologi Sistematis 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004
Groenen, C. Dr. OFM., Soteriologi Alkitab, Keselamatan Yang Diberitakan Alkitab, Yogyakarta: Kanisius, 1989
Yohanes Paulus II, Tentang Sakit dan Derita, Maumere: Ledalero, 2010
Handoko, Petrus Maria Dr. CM., Dicipta Untuk Dicinta: Antropologis Teologis Teologis Fundamental, (Diktat), Malang: STFT Widya Sasana 1996
Kleden, Paul Budi, SVD, Membongkar Derita Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi, Maumere: Ledalero, 2006,
Klein, Paul, Kebebasan Kreatif Menurut Nikolay Berdiayev. Maumere: Ledalero, 2008
Manehat, Piet, Butir-Butir Mutiara Kehidupan Kristiani, Jakarta: Yanense Mitra Sejati, 1996
Dokumen
Dokumen KV II dalam Gaudium et Spes artikel 17., Jakarta: Obor 1993
Konfrensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Buku Informasi dan Refrensi, Yogyakarta: Kanisus, 1996
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992
A. Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja III, Jakarta: Cipta Loka Caraka 1993
Konferensi Waligereja Indonesia, Katekismus Gereja Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 1993.