FENOMENA KEHADIRAN KAUM IBU DALAM SETIAP KEGIATAN LINGKUNGAN DI LINGKUNGAN ST YAKOBUS,
PAROKI ST ANDREAS TIDAR – MALANG
By: lucius Tumanggor, SVD
I. PENDAHULUAN
Selama bulan Oktober 2009 yang lalu, penulis mengikuti seluruh kegiatan lingkungan di lingkungan St. Yakobus, paroki St. Andreas Tidar-Malang. Kegiatan yang saya ikuti adalah doa lingkungan dan doa Rosario setiap malam. Dalam kegiatan ini, penulis melihat dan mengamati bahwa ada satu fenomena yang mendasar dalam kegiatan lingkungan ini, yakni kehadiran kaum ibu-ibu lebih dominan.
Dari sekitar 30 orang yang hadir setiap malamnya, 24-25 orang adalah kaum ibu-ibu yang rata-rata usia pernikahannya sudah di atas lima tahun. Sedangkan kaum bapa-bapa paling tinggi hanya sekitar 5-6 orang. Hampir dalam setiap kegiatan lingkungan kaum muda (remaja) lingkungan tidak ada. Dalam penelitian ini, kami hanya memusatkan perhatian pada kehadiran kaum ibu khususnya ibu-ibu yang usia pernikahannya sudah di atas lima tahun.
Salah satu yang menjadi persoalan/masalah dalam penelitian ini adalah mengapa setiap kegiatan lingkungan hanya didominasi oleh kehadiran kaum ibu-ibu? Di mana kaum bapa-bapa?, dimana kaum remaja dan anak-anak? Mengenai kehadiran ibu-ibu, banyak orang berpendapat bahwa pendominasian ini oleh karena: pertama, kaum ibu-ibu lebih banyak memiliki waktu luang. Kaum ibu-ibu senang bertemu dengan teman-temannya untuk tukar pikiran dengan teman-temanya atau boleh saja untuk “menggosip”(ini kelihatan pada waktu mereka sudah mengumpul banyak yang suka omong-omong atau ribut saat kegiatan doa sedang berlangsung). Kedua, kaum ibu ingin hanya sekedar keluar dari rumah sebab seharian mereka sudah bekerja di rumah, dengan kata lain hanya ingin sekedar “pelarian” dari rumah.
Menjadi pertanyaan untuk kita adalah apakah benar faktanya demikian? Pertanyaan ini pulalah yang hendak digali oleh penulis untuk melihat fakta yang sebenarnya dalam paper ini. Penelitian ini juga diharapkan “sedikit” bisa membantu dewan pastoral paroki untuk mempertimbangkan peranan kaum wanita-khususnya kaum ibu-ibu dalam pelayanan maupun dalam penangan seksi-seksi kegiatan gerejani. Kaum perempuan tidak bisa lagi disebut sebagai nomor dua dalam kebijakan publik khususnya dalam kehidupan menggereja kita. Kemampuan perempuan tidak bisa hanya dilihat sebagai seksi yang bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga paroki. Kemungkinan, kehadiran ibu-ibu juga bisa menjadi pertimbangan bagi gereja untuk melibatkannya dalam urusan tugas pelayanan seperti jabatan prodiakon dalam kehidupan menggereja kita
II. PENDASARAN TEORITIS TENTANG KEHADIRAN
Kehadiran Menurut Gabriel Marcel
Gabriel Marcel adalah seorang filosof berkebangsaan Perancis. Dia dikenal sebagai pemain drama dan komposer musik. Dalam gagasan filosofisnya, banyak orang mengatakan bahwa Gabriel Marcel adalah seorang eksistensialis dan dekat dengan kaum personalis. Mengapa Ia dikenal demikian? Karena ia menitikberatkan filosofisnya pada keadaan manusia. Dalam pemahamannya, filsafat dikarakterisasi pada sebuah perasaan tragis manusia, tetapi juga sebuah pengharapan dan misteri ada. Pada tahun 1929 Ia bergabung dengan Gereja Katolik Roma. Walaupun demikian, dia bukanlah seorang Thomistik, melainkan tetap mendekatkan diri pada kaum eksistensialis dan personalis.
Setelah tahun 1949, ia terang-terangan menunjuk dirinya sebagai seorang neo-sokratik dan menegaskan mengenai karakter berpikir filofisnya yang adalah terbuka dan dialogis. Terbuka dan dialogis hendak mengatakan bahwa filsafat pada dasarnya adalah ilmu yang siap dan terbuka untuk didiskusikan dan didialogkan dalam kehidupan konkret demi sebuah urgensi atau keperluan ada. Marcel menolak filsafat sebagai suatu sistem. Sistematisasi mau tidak mau akan mematikan pemikiran yang hidup. Pernyataan ini menghantar kita untuk mengerti mengapa setelah tahun 1949 ia menunjuk dirinya sebagai seorang neo-sokratik? Kemungkinan besar bahwa dengan nama itu ia hendak menjadikan dirinya sebagai seorang yang senantiasa sedang mencari dan bertanya-tanya bukan untuk mensistematisasi filosofis dalam bentuk baku.
Kehadiran merupakan keterarahan diri yang satu bagi yang lain (perjumpaan “Aku” dan “Engkau”)
Salah satu kata kunci untuk melukiskan hubungan manusia dengan sesamanya adalah kehadiran (presence). Menurut Marcel misteri Ada tidak tampak dengan cara yang semestinya, kalau tidak diselidiki dri sudut intersubyektivitas, artinya relasi antar-manusia. “Ada” selalu berarti “Ada bersama”. Istilah kehadiran (presence) bukanlah berarti berada di tempat yang sama. Kata ini tidak boleh dimengerti secara “obyektif”, dengan menerapkan kategori-kategori ruang dan waktu, tetapi lebih pada keterarahan diri yang satu bagi yang lain. Atau dapat dikatakan bahwa kehadiran itu perjumpaan “Aku” dan “Engkau”.
Marcel memahami bahwa istilah relasi “Aku” dan “Engkau” hendak menunjukkan bahwa sesama manusia tampak bagi “saya” justru sebagai sesama. Sesama hadir bagi “saya” bila ia lebih dari salah satu individu; bila “saya” sungguh-sungguh mengadakan kontak dengan dia sebagai persona. “kehadiran” ini dapat diwujudkan, biarpun dalam ruang kita saling berjauhan. Kehadiran direalisasikan secara istimewa dalam cinta. Di sini Aku dan Engkau mencapai taraf “Kita”. Pada taraf kita, Aku dan Engkau diangkat menjadi suatu kesatuan baru yang tidak mungkin dipisahkan ke dalam dua bagian. Dengan demikian timbullah kebersamaan. Kebersamaan yang sungguh-sungguh komunikatif.
Dalam pengkajian selanjutnya, Marcel menegaskan bahwa kebersamaan ini menurut kodratnya harus berlangsung terus. Karena itu dalam pengalaman cinta terkandung juga bahwa “Aku” mengikat diri dan tetap setia (fidelity). Kesetian ini disebut sebagai “kesetiaan kreatif” (creative fidelity). Kesetiaan adalah sentral bagi relasi intersubyektif. Kesetiaan melibatkan adaku yang sekarang bagi orang lain. Kesetiaan melibatkan komitmen tanpa syarat dan ada yang bersedia bagi orang lain. Aksi dari kesetiaan kepada orang lain dipahami sebagai kerendahan hati. Kesetiaan adalah juga sebuah persembahan diri kita bagi orang lain. Kesetiaan dialami sebagai hati dari batas egosentritas kita sendiri. Demikian kesetiaan mengarahkan kita semakin beriman kepada yang absolut, Tuhan.
Kehadiran Mengarahkan Kita Beriman Pada Batas Diri yang Absolut/ Tuhan
Marcel memberikan suatu adanya pengharapan. Dia melihat bahwa refleksi filosofis tentang kehadiran orang lain mengahantar kita kepada kehadiran dari “yang lain” secara istimewa yaitu Allah. Kehadiran yang dijiwai oleh kesetiaan justru mengahantar kita untuk semakin mengenal Allah. Kesetiaan adalah bagian dari iman. Dalam iman, kita akan menemukan kemungkinan dan jaminan dari kesetiaan kita. Marcel pernah mengatakan bahwa “saya” dibimbing/ dihantar pada Ada yang dari awal dan “saya” menjadi penuh sebagai manusia dalam kesatuaan dengan orang lain dan Tuhan.
III. SITUASI
Lingkungan St. Yakobus adalah salah satu bagian dari paroki St. Andreas, Tidar-Malang. Lingkungan ini berada di wilayah perumahan jalan Tidar menuju puncak Tidar. Secara sosial-ekonomi, para anggota lingkungan rata-rata sebagai pengusaha, karyawan-karyawati dan pegawai. Secara ekonomi, anggota lingkungan merupakan kelas menengah ke atas. Pada umumnya anggota lingkungan St. Yakobus berasal dari etnis Tionghoa dan Jawa. Dalam keseharian mereka menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
Lingkungan ini adalah lingkungan yang harmonis dan peduli kepada masyarakat yang ada di wilayah mereka. Mereka biasanya mengadakan aksi social seperti bazar murah, pengobatan gratis bagi masyarakat yang ada di wilayah mereka. Lingkungan ini terdiri dari 58 kepala keluarga yang terdiri dari 144 dewasa, 47 orang remaja, dan 16 orang anak-anak. Dari 58 kepala keluarga ini, lingkungan kini dibagi menjadi 8 blok. Setiap blok terdiri dari 8 Kepala keluarga. Setiap blok memiliki ketuanya sendiri untuk mempermudah kelancaran kordinasi dengan pengurus-pengurus lingkungan.
Dengan adanya blok-blok ini, para seksi atau koordinator lingkungan sangat terbantu untuk mempermudah urusan kegiatan. Misalnya untuk menentukan tempat (rumah keluarga untuk kegiatan doa) pada hari tertentu bisa dditentukan dengan cepat. Demikian jga dengan halnya tugas-tugas liturgy dari paroki. Koordinator lingkungan cukup hanya mengontak para ketua blok untuk menentukan siapa-siapa yang akan bertugas di paroki seperti lektor, mazmur, kolektan dan lain sebagainya.
Lingkungan St. Yakobus sangat welcome terhadap siapa yang mau bergabung dengan mereka. Mereka juga sangat mengedepankan hospitality dalam setiap orang yang hendak memiliki keperluan dengan mereka. Sejauh penulis alami, mereka sangat antusias untuk mendukung dan membantu kepentingan penelitian ini. Mereka sangat bersedia diajak untuk menjawab pertanyaan dan juga wawancara yang kami adakan di rumah-rumah mereka.
Mereka mau mengorbankan waktu kepada kami demi kelancaran tugas dan tanggung jawab kami sebagai pelajar. Mereka juga mau berterus terang apa adanya tentang kehidupan lingkungan mereka saat ini. Dengan keterus-terangan mereka, penulis merasa mendapat banyak masukan untuk menulis paper ini. Penulis tidak mengalami kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan mereka.
IV. ANALISA KULTURAL/KONTEKSTUAL
Dalam sebuah wawancara saya membuat suatu pertanyaan dan menangkap beberapa tanggapan dan reaksi dari subjek penelitian kami. Di bawah ini, penulis mencantumkan apa yang disampaikan oleh mereka secara dominan.
1. Mengapa kehadiran ibu-ibu lebih dominan dalam kegiatan lingkungan? Kebanyakan dari kaum ibu yang saya wawancarai mengatakan bahwa suami-suami tidak mau aktif; Bagi mereka satu kali ke gereja itu sudahlah cukup; Bapa-bapa itu kerja sampai malam; ibu-ibu itu tidak terlalu sibuk. Punya kesibukan sih tapi hanya membantu suami aja. Ibu-ibu banyak kerja tetapi tidak mungkin sampai malam; Lingkungan kurang disukai oleh bapak-bapa; Bapa-bapanya malas; Bapak-bapak itu mungkin berpikir batasnya hanya sekitar gereja aja; Mungkin kurang kesadaran; Saya melihat bahwa dalam diri bapak-bapak itu kegiatan iman itu sepertinya hanya urusan ibu-ibu aja, maka yang berperan pun hanya ibu-ibu. Ada beberapa reaksi yang saya tangkap saat para ibu menjawab pertanyaan, yakni: sambil menujuk ke arah suaminya …. Itu suami saya juga tidak mau aktif; dia ngomong sambil jalan ke dapur ambilkan air minum…. Kalau saya melihat cowok-cowok itu sibuk kerja frater ; sambil garok-garok kepalanya seorang ibu berkata, ada tetangga saya itu frater pulangnya hingga sampai jam 1-2 malam karena kerja ikut orang. Ini memang persoalan untuk kita. Carilah dahulu kerajaan Allah…. Tapi ya gimana ya; sambil menggelenggeleng kepala sambil mengatakan Syukur kalau bisa datang ke gereja… kemudian bapaknya datang dari samping sambil tertawa dan menambahkan, maklum aja frater… surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.
2. Mengapa ibu rajin ke lingkungan? Dari beberapa subjek/informan member tanggapan sebagai berikut: saya rajin karena dorongan hati; Saya menyadari itu karena sudah merasakan banyak berkat dr Tuhan; karena Tuhan melakukan banyak hal terhadap diri saya; Lingkungan itu bagaikan keluarga yang ke dua untuk saya frater!. Saya juga kangen ama teman-teman. Lingkungan itu sebagai tempat persahabatan; Ini murni karena niat, saya butuh siraman rohani. Lingkungan menjadi tempat untuk berkembang dalam iman. Iman tanpa perbuatan bisa dilihat dari sanalah. Lingkungan tempat pertumbuhan iman; saya sangat senga dengan pendalaman iman, karena pengetahuan iman saya bertambah; sebenarnya saya rindu untuk dengar firman Tuhan; ingin membalas kebikan Tuhan. Tetapi saya selalu merasa kurang untuk membalas kebaikan Tuhan; Saya kalau tidak ke lingkungan tidak enak rsanya. Tidak enak karena ya… tidak taulah.pokoknya tidak enak ajalah. Lingkungan itu seperti keluraga yang ke dualah; Saya rajin karena niat dan ingin dekat dengan Tuhan. Kemudian saya juga melihat reaksi dari beberapa informan, sebagai berikut: mereka menjelaskan pertanyaan saya sambil tangan di gerekakkan (seperti main puisi); kelihatan mereka bersemangat dan berkobar-kobar.
3. Apa jabatan ibu? Beberapa ibu adalah seorang karyawati sebuah perusahaan swasta; ibu rumah tangga sambil buka salon; wiraswasta; bagian kesehatan; pensiunan. Pada umumnya saya melihat reaksi mereka adalah percaya diri dan bangga pada jabatannya.
4. Bagaimana ibu membagi waktu untuk lingkungan? Ada beberapa tanggapan yang saya temukan yakni, seorang ibu menjelaskan jadwalnya dengan mengatakan: Setiap jam 6-20 sampai 15.45 saya sudah bekerja. Senin-jumat kerja jam 6.20-15.45. tapi setiap jumat-sabtu hanya bekerja jam 6.20-12.45 aja. Dengan waktu seperti ini, sebenarnya dapat dikatakan padat, dan saya bisa memberikan waktu untuk kegiatan pelayanan di luar dari waktu ini; keluarga sangat mendukung. Kalau saya tidak memasakpun mereka memaklumi sehingga sewaktu-waktu bisa ditinggal; di rumah selalu saya memberi perhatian, lalu pergi menghadiri kegiatan lingkungan. Dalam pengamatan saya, saya menagkap ada reaksi dari antara mereka kelihatan menjelaskan jadwalnya dengan menghitung pakai jari-jarinya.
5. Apa yang sudah ibu buat dalam mengembangkan lingkungan? Ada beberapa informan menaggapinya dengan mengatakan Saya berhasil menjadikan teman-teman semakin percaya diri. misalnya banyak dari anggota lingkungan kami yang sudah mau untuk memberikan renungan/kotbah saat doa lingkungan; saya kerap membawa firman, saya sering syaring tentang hidup saya, seperti bagaimana Tuhan menolong saya; mengadakan kunjungan, kunjungan ke rumah sakit, mengunjungi orang yang tidak ke gereja, mendapingi romo yang mau memberikan komuni; saya bendahara saya pasti sibuk bikin kwintansi, dengan kegiatan ini maka dipilih jadi ketua; Saya dulu ikut mengembangkan lingkungan ini menjadi tiga lingkungan. Reaksi yang saya tanggap dari penampilan beberapa informan yakni berbicara sambil duduk dikursi dengan kaki menyilang dan tangan aktif ikut bergerak saat berbicara.
6. Bagaimana biasanya ibu mengembangkan kerohanian? Tanggapan dari informan umumnya sebagai berikut: Saya melihat ada kelemahan dalam diri saya. Saya tidak bisa membaca KS dengan rutin, tapi kalau saya rindu saya membacanya; Sebenarnya saya mempunyai satu cita-cita yaitu ingin merangkul semua orang; Saya lebih melihat segi positf orang lain, dan saya berusaha ingin mengayomi siapapun; saya tidak punya jam-jam khusus untuk Tuhan, namun untuk Rosario saya tiap hari, saat di jalan pergi kekantor. Intensinya yaitu untuk suami, anak-anak dan orang tua. Untuk hari jumat saya berdoa untuk hal-hal yang sudah tidak kelihatan, seperti arwah-arwah; Saya selalu berdoa dan berdevosi kepada Maria Sima untuk mendoakan jiwa-jiwa. Inilah keyakinan saya pada bunda Maria, kehadirannya nyata dalam kehidupanku. Doa Rosario itu lebih mengena saat saya berdoa sendiri; Dengan doa, baca kitab suci, baca buku-buku kerohanian; Saya rajin misa setiap pagi di Jayagiri. Sakitpun tidak jadi masalah; di jalan saya selalu berdoa Rosario; Setiap bangun pagi saya selalu baca kitab Tawarikh I dan injil di Gereja, dan baca Mazmur 51: pengakuan dosa, habis ngaku dosa baru no 11. Jadi setiap bangun pagi saya wajib doa mazmur 51. Bacaan wajib mzm 11, 24, 95, 103, 121, 146, 150. Dan 1 Tawarikh 4:10. Pokoknya bagi Tuhan saya harus memberikan banyak waktu. Saya sadar bahwa Tuhan banyak memberikan waktu dan kesempatan bagi saya. Namun ada reaksi yang saya perhatikan dari salah satu informan kelihatan agak sedih karena teringat masa lalu ada pengurus yang suka memilih-milih orang; bangga pada diri dan datang sambil menujukkan bacaan-bacaan kitab sucinya setiap hari, dan menujukkan teks-teks kitabsuci yang sudah di foto kopynya.
7. Apakah menurut anda kaum ibu lebih beriman dr pada kaum bapak saat ini? Tanggapan mereka sebagai berikut: Ya ibu-ibu itu lebih beriman dari bapak-bapak; Kalau bapak-bapak yang keluar cendrung politiknya; Kalau bapak-bapaknya disuruh jadi pengurus tidak mau. Karena mungkin mereka jarang doa; Sebetulnya tidak juga. Tetapi aku tidak tahu kenapa bapak-bapaknya. Anak-anak saya selalu aktif dalam setiap kegiatan gereja; Ibu-ibu lebih beriman dari bapa-bapak. Bapak itu hobinya olah raga, gereja itu kayaknya urusan perempuan aja; Belum tentu. Seperti suami saya setiap jam 10 malam selalu berdoa sendiri tapi Seperti suami saya kalau tidak diajak ke gereja ya tidak pergi ke gereja. Aku tidak tahu mengapa cowok-cowok itu melempem; saya melihat bahwa iman ibu-ibu itu lebih hidup, lebih besar dari pada bapa-bapa; Pemahaman bapa-bapa terhadap agama sangat kurang; Mereka tidak mau ikut terlibat apalagi mengikuti kegiatan pendalaman iman. Pendalaman iman, jagan harap frater. Misalnya kalau ada tanggal-tanggal merah atau hari raya itu hanya untuk hari libur saja. Jangan harap itu bisa dijadikan untuk belajar iman. Ya… hari raya hanya untuk hari libur aja; Kalau saya tidak ke gereja maka semua anggota keluarga juga pasti tidak ikut ke gereja. Sayalah di kelurga menjadi penggerak untuk pergi ke gereja. Kalau suami dan anak saya ini kerap kurang sadar.. kalau mami tidak ke gereja ues…. Untuk semua. Ada reaksi dari informan dengan menunjukkan sikap tertawa sedikit Kalau dalam kegiatan lingkungan, jumlah bapa-bapa bisa dihitung dengan jari…. (dia menghitung sambil tertawa dan geleng-geleng kepala).
8. Bagaiaman perasaan anda kalau anda tidak mengikuti kegitan lingkungan? Beberapa tanngapan informan muncul sebagai berikut: kalau saya tidak pergi perasaan saya tidak enak, tiak tahu kenapa. Tidak enak terhadap diri sendiri; Saya kalau tidak ke lingkungan tidak enak rasanya. Tidak enak karena ya… tidak taulah.pokoknya tidak enak ajalah. Lingkungan itu seperti keluraga yang ke dualah; Kalau saya lihat para ibu, apa lagi saya kalau tidak datang ke lingkungan, rasanya kayak tidak enak, ada yang kurang, bahkan ke gerja setiap haripun kalau tidak ikut sekali rasanya tidak enak. Namun ada reaksi dari informan sangat kelihatan sambil tidak puas sambil menarik nafas…. Dengan berkata ahhhh, gitulahhh frater.
9. Apa yang anda ikuti dalam kegiatan lingkungan? Umumnya para informan menanggapi dan menjawab setiap bulan dua kali pendalaman iman; satu kali untuk misa lingkungan; doa Rosario setiap hari pada bulan Mei dan Oktober; pemberkatan rumah; ibadat arwah; kegiatan social mengadakan pengobatan gratis, kerjasama dengan dokter-dokter yang ada dalam warga sendiri; mengadakan basar murah; masa adven, kita selalu mengadakan pendalaman iman satu kali setiap minggu. Namun ada informan memberikan suatu reaksi dengan mengatakan Yahh……. saya itu mengurusi mulai dari tempat sampai dengan urusan kursi-kursinya frater (sambil tarik nafas seperti mendesah).
V. REFLEKSI TEOLOGIS
Kehadiran adalah relasi cinta yang membahagiakan antara aku dengan Allah dan sesama (Mat 22:37-39)
Ketika Marcel menyebut kehadiran sebagai relasi antar manusia yang selalu dibangun dalam kesetiaan yang kreatif, Ada – bersama, perjumpaan Aku – Engkau dalam cinta, maka dalam refleksi teologis, kehadiran dapat dipahami sebagai perjumpaan manusia yang dipenuhi dengan cinta. Cinta terhadap Allah dan juga cinta terhadap sesama adalah ciri khas dari sebuah kehadiran jati diri seorang Kristen. Yesus pernah berkata “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).
Karena relasi adalah sebuah cinta, maka perjumpaan kita satu dengan yang lain hendaknya selalu diikat dengan kesetiaan yang harmonis. Dengan kata lain, perjumpaan yang satu terhadap yang lain merupakan ungkapan persaudaran Aku –Engkau dalam ikatan cinta-Nya. Berbicara dalam konteks persaudaraan, gereja perdana pernah menjadikan cinta sebagai dasar persekutuan mereka. Dalam mewujudkan cinta yang harmonis terhadap sesama, mereka berkumpul dalam satu persekutuan, hidup bersama dalam komunio yang ditandai dengan sehati dan seperasaan. Sehati dan seperasaan berwujud dalam bentuk milik bersama. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama”. Bahkan dalam pengakuan mereka, bahwa ada dari mereka yang selalu menjual harta miliknya untuk dibagi-bagikan bagi mereka yang kekurangan (bdk, Kis 44-46).
Lukas menampilkan hal ini untuk menegaskan bahwa relasi dalam kehidupan jemaat perdana sangat dipenuhi oleh cinta yang mesra tanpa ada yang merasa kekurangan ataupun tidak diperhatikan. Dengan kata lain, Lukas hendak menampilkan bahwa relasi itu sangat indah dan kehadiran (satu dengan yang lain) itu sangat membahagiakan atau menyenangkan hidup. Selain terhadap sesama, jemaat perdana juga mengarahkan relasi cintanya kepada Allah. Mereka hidup sehati dan sejiwa dalam persekutuan untuk memuliakan Allah. Mereka berpartisipasi untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat di mana mereka hidup. Dalam kisahnya, Lukas mengatakan bahwa jemaat perdana berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecah-mecahkan roti di rumah, bergembira dengan tulus hati sambil memuji Allah. Mereka semua disukai seluruh masyarakat setempat, dan Allah tetap menambah jumlah mereka. (bdk. Kis 2: 46-47).
Lukas menujukkan bahwa relasi yang harmonis itu begitu perlu dan penting dalam kehidupan bersama. Bagi Lukas, kehidupan bersama tidak mungkin bisa eksis jikalau relasi tidak dimaknai dengan relasi cinta. Maka bagi Lukas, relasi yang harmonis terhadap sesama dan Allah, dengan sendirinya akan menuai sukacita dan kegembiraan di mana kita hidup. Jadi Kehadiran secara teologis dapat dipahami sebuah relasi cinta yang membahagiakan antara aku dengan sesama dan juga dengan Allah sendiri.
V.I. MENYAJIKAN PERUMUSAN BARU (PRAKTISNYA)
Saat kita melihat fenomena kehadiran kaum ibu di dalam kegiatan lingkungan, pikiran kita tersentak pada sebuah pertanyaan tentang mengapa setiap kegiatan lingkungan selalu didominasi kaum ibu? Apakah ini sebuah fakta bahwa gereja kita kini sudah berwajah “keibuaan” (bersifat feminis)? Pendominasian kaum perempuan dalam menghadiri kegiatan lingkungan ataupun dalam kehidupan menggereja bukanlah karena kaum ibu memiliki ketersediaan waktu lebih banyak dari kaum bapak, atau karena mereka ingin keluar dari rumah demi menghindari kejenuhan belaka, melainkan kami menemukan alasan mereka oleh karena sebagai ungkapan iman yang utama dan terutama. Ketika kehidupan meggereja saat ini lebih dominan diminati oleh kaum ibu, maka langkah apa yang perlu diperhatikan oleh gereja Katolik, paroki saat ini? Menurut Penulis langkah yang kita persiapkan saat ini, yakni: pemberdayaan peranan perempuan dalam pelayanan gereja tanpa ragu-ragu misalnya sebagai ketua dewan satu paroki dan juga sebagai prodiakon dalam paroki.
Perempuan sebagai ketua dewan satu pastoral paroki
Masyarakat Indonesia masih kental dengan budaya patriakal. Budaya ini masih sangat kuat dalam kehidupan menggereja kita dewasa ini. Mungkin kita masih kaget kalau mendengar seorang perempuan tampil sebagai ketua satu dewan pastoral paroki. Mengapa? Karena kita sudah terbiasa dengan sebuah sosok ketua dewan pastoral paroki adalah seorang bapak yang berwibawa, pintar dan tegas. Bahkan pola pikir kaum perempuan sendiri telah terbiasa dengan konsep bahwa wibawa sejatinya ditujukan bagi kaum bapak.
Ini akan berdapak pada sebuah keputusan bersama untuk membentuk dewan pastoral paroki sendiri. Kemungkinan akan ada konsep (seolah keputusan bersama) umat paroki yang mengatakan bahwa ketua dewan satu pastoral paroki haruslah kaum bapak. Bila ini yang sudah muncul maka, sampai kapanpun kaum perempuan tidak akan pernah menjadi ketua satu dewan pastoral paroki. Bahkan bila tidak ada calon pun dari kaum bapak, atau bahkan tidak ada yang mau mencalonkan diri, kita akan mati-matian untuk membujuk agar ada calon dari kaum bapak, bila penting memaksanya lewat bujuk rayuan manis kita.
Menjadi petanyaan untuk kita apakah kita lebih mengutamakan bujukan atau “memaksa” para bapak supaya sekedar mau daripada seorang ibu yang aktif dan tulus melayani gereja yang sejatinya dia juga memiliki kompetensi dan punya semangat untuk memimpin? Apakah kompetensi seorang ibu bisa dikalahkan oleh seorang semangat bapak yang dipilih berdasarkan bujukan dan “paksaan” kita?
Perempuan sebagai “Diakon-awam”
Istilah diakon-awam tidaklah sama dengan jabatan Diakon yang sudah masuk dalam golongan klerus. Diakon-awam adalah seseorang yang diangkat atau dilantik oleh uskup (atau seijin dari pastor paroki) dalam satu upacara –pemberkatan khusus dan diberi tugas serta wewenang untuk bidangnya dengan jangka waktu seperti ditentukan oleh uskup. Salah satu yang jarang sekali kita saksikan di paroki atau di keuskupan kita ini adalah perempuan atau kaum ibu yang bertugas untuk membagi komuni pada hari minggu. Di keuskupan ini khususnya di paroki-paroki kita, kita masih menyaksikan tugas tersebut dilakukan oleh kaum biarawan-biarawati, atau para frater-bruder.
Sejauh pengamatan penulis, memang ada beberapa paroki yang mempercayakan pembagian komuni kepada para awam tetapi umumnya hanya untuk kaum bapak saja. Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa ada pembagian seperti ini? apakah pembagian ini didasarkan oleh karena “kesucian”? Apakah kekudusan atau kesucian para ibu-ibu kalah dengan kesucian kaum biarawan-biarawati? ataukah kesucian kaum bapak melebihi kesucian kaum ibu? Bukankah bapak dan para biarawan-biarwati juga merupakan kelompok awam? Mengapa tidak kaum ibu?
VI. PENUTUP
Fenomena kehadiran kaum ibu-ibu dalam kegiatan lingkungan dapat dikatakan adalah sebuah kesadaran diri kaum perempuan yang dalam. Kegiatan lingkungan adalah sebuah untuk mengembangkan iman mereka. Kehausan akan relasi dengan Tuhan bisa terpenuhi dengan kegiatan-kegiatan lingkungan dalam doa bersama, mendengarkan firman Tuhan, misa di lingkungan, pendalaman iman serta memberikan pelayanan kepada orang lain lewat kegiatan sosial dalam masyarakat. Kesadaran akan pentingnya iman ini, para ibu tidak enggan untuk memberikan diri serta mengorbankan waktunya lebih banyak. Mereka tidak ada niat dan maksud lain pergi kelingkungan selain demi menjawabi cinta Tuhan yang telah mereka terima.
Rabu, 06 Oktober 2010
Kebebasan dan Penderitaan
Kebebasan dan Penderitaan
by: Lucius Tumanggor, SVD
I. Pengantar
Sejak awal penciptaan Allah sudah membuat manusia istimewa dari ciptaan lainnya. Perbedaan itu sudah tampak disaat Allah mau menciptakan manusia. Perbedaan itu dapat kita lihat dalam kitab suci (kej 1) yang memberikan rumusan demikian; ketika Allah menciptakan ciptaan lain rumusannya demikian, “ berfirmanlah Allah: jadilah… maka jadilah…” (lih. Kej 1) namun ketika Allah hendak menciptakan manusia rumusannya sedikit berubah dimana dikatakan “ baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita supaya mereka berkuasa…..(kej 1:26-28). Dalam rumusan ini ada diskusi sebelum menciptakan manusia dan yang paling istimewa lagi bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan juga manusia diberi kebebasan untuk menguasai ciptaan-ciptaan lainya. Suatu kepercayaan yang luar biasa dari Allah untuk manusia.
Manusia sebagai ciptaan yang paling istimewa diberi-Nya kebebasan. Kebebasan untuk memelihara ciptaan. Kebebasan manusia itu adalah kebebasan yang merupakan kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak untuk bertindak demi kebaikan manusia dan demi kemuliaan Allah. Kebebasan itu harus senantiasa diarahkan kepada Allah (bdk KHK 1731). Allah mengharapkan dengan kebebasan manusia bertanggungjawab atas perbuatan sejauh ia menghendakinya. Allah tidak pernah menghendaki kebebasan manusia itu digunakan untuk mengatakan dan melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan baik dan buruk artinya kebebasan itu bukan untuk dipergunakan semaunya.
Dalam sejarah perjalanan hidup manusia, kebebasan itu ternyata disalahgunakan. Manusia tidak lagi menggunakan kebebasan untuk memelihara ciptaan melainkan untuk mengeksploitasi ciptaan dengan tanpa atauran akibatnya ciptaan rusak, ciptaan menderita. Kebebasan yang Tuhan berikan yang pada awalnya bertujuan untuk kebaikan manusia, ciptaan dan kemuliaan Allah berubah menjadi sumber penderitaan bagi ciptaan.
Dalam paper ini akan dibahas Penyalahgunaan kebebasan dan penderitaan yang bersumber dari penyalahgunaan kebebasan itu sendiri. Jadi penderitaan yang kami maksudkan disini hanyalah penderitaan sebagai akibat dari penyalahgunaan kebebasan manusia.
II. Kebebasan dan Penderitaan Dalam Sejarah
2.1. Kebebasan Dalam Sejarah
2.1.1. Menurut Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, pemahaman kebebasan bermula dari tindakan penyelamatan Yahweh dan dari tuntutan perjanjian yang mengangkat sejarah. Perjanjian Lama menunjukkan bahwa manusia mampu mengambil keputusan bebas, dan seringkali menghimbau pada kekuatan manusia untuk menentukan pilihan, karena itu perlu suatu sikap tanggung jawab dari manusia. Keyakinan akan kebebasan manusia ini secara implisit sudah tertera dalam penampakan Allah yang adalah kebebasan tertinggi.
Lebih lanjut, pandangan Kitab Suci tentang kebebasan dilatarbelakangi pemikiran tentang penahanan dalam penjara atau perbudakan. Para penguasa memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah (Kel 39:20); suatu bangsa yang dikalahkan akan diperbudak oleh bangsa yang mengalahkannya, atau menjadi tawanan perang oleh penakluknya, atau seperti Yusuf, dijual sebagai budak. Ketika Kitab Suci berbicara tentang pembebasan, di dalamnya terkandung pengertian tentang perbudakan sebelum pembebasan itu.
2.1.2. Menurut Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru, yang menjadi fokus perhatiannya bukanlah kebebasan asali manusia tetapi kebebasan manusia yang harus dibebaskan. Namun demikian, manusia tetap memiliki kebebasan asali yang diberikan oleh Allah. Kebebasan asali yang diberikan Allah kepada manusia selalu dikaitkan dengan karya penyelamatan Allah. Hal inilah yang menegaskan bahwa kebebasan asali itu adalah demi kebaikan. Allah sendiri melalui Putra-Nya membebaskan umat-Nya karena manusia jatuh ke dalam dosa. Pelayanan Kristus adalah pelayanan pembebasan. Rasul Paulus sering mengatakan bahwa Kristus membebaskan orang yang percaya, di sini dan kini, dari pengaruh-pengaruh yang bersifat merusak, yang dahulu memperbudak mereka, yakni dosa, penguasa yang kejam (Rm 6:18-23); dari hukum Taurat sebagai sistem keselamatan yang membangkitkan dosa (Gal 4:21, 5:1, Rm 6:14), dari kuasa kegelapan yang jahat (Kol 1:13), dari kepercayaan kepada ilah-ilah takhayul (1Kor 10:29), dari beban upacara-upacara agama Yahudi (Gal2:4). Dari semuanya itu, nampak bahwa Paulus ingin menegaskan, kebebasan dosa yang telah berakar (Rm 7:14; 23).
Kebebasan manusia dengan demikian adalah kebebasan yang harus dibebaskan, sebab manusia berada di bawah perbudakan dosa. Dengan kekuatannya sendiri manusia tidak bisa membebaskan dirinya. Hanya dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia itu bisa membebaskan dirinya sebab dalam Kristus Yesus, setiap manusia benar-benar dibebaskan dari dosa (Rm 8:1-4). Pembebasan membawa serta pengangkatan menjadi anak (Gal 4:5); mereka yang dibebaskan dari dosa menjadi anak-anak Allah dan menerima Roh Kristus sebagai Roh pengangkatan, yang memberikan jaminan bahwa mereka adalah sunguh-sungguh anak Allah dan pewaris-Nya (Gal 4:6, Rm 8:15).
2.1.3. Menurut Tradisi
Bapa Gereja melihat kebebasan dalam arti kehendak bebas manusia sebagai kehormatan yang diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan. Kebebasan manusia itu menjadi suatu bukti bahwa manusia juga menentukan keputusannya sendiri yang sejati.
Irenius mengatakan bahwa, “Manusia itu adalah makhluk berakal budi, dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia adalah tuan atas tingkah lakunya itu.” Menurut Agustinus, ketika manusia menyalahgunakan kehendak bebasnya, manusia kehilangan kehendak bebasnya dan dengan demikian juga kehilangan dirinya. Manusia adalah citra Allah dan diciptakan kepada kebaikan. Kebebasan itu hendaknya juga mengarah kepada kebaikan. Manusia yang kehilangan kebebasannya itu menjadi hamba dosa, dan dengan demikian manusia itu juga menyangkal jati dirinya sebagai citra Allah. Agustinus juga memahami kebebasan yang memiliki kaitan dengan soal rahmat, yaitu cinta kasih yang menggerakkan manusia dengan pasti dan bebas kepada Allah. Tanpa rahmat, kehendak manusia tidak mampu menginginkan yang baik, sebab kebebasan manusia sejak semula terluka karena dosa yang telah dibuat oleh manusia. Dan itulah yang melemahkan kehendak bebas manusia.
2.1.4. Menurut KV. II
Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “hanya secara bebas manusia dapat mengarahkan dirinya pada yang baik. Kebebasan ini sangatlah dihargai dan dituntut dengan tegas oleh manusia sekarang ini. Namun, seringkali kebebasan ini ditafsirkan secara salah, seakan manusia boleh bertindak sewenang-wenang asalkan bisa menyenangkan hatinya sekalipun keinginannya jahat. Namun demikian, kebebasan sejati adalah ciri yang paling jelas bahwa manusia adalah sungguh citra Allah. Allah sendiri telah berkenan membiarkan manusia mengambil keputusannya sendiri (Sir 15:15) supaya dengan rela ia mencari Allah, supaya manusia secara bebas mencapai kesempurnaan yang bulat dan bahagia bersama dengan Tuhan-Nya.
Martabat manusia menuntut supaya manusia bertindak menurut pilihannya yang diambil secara sadar dan bebas. Keputusan ini hendaknya berasal dari keyakinan pribadi dan bukan semata-mata dari nafsu buta belaka. Manusia hanya dapat mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah jika ia bebas dan dibantu oleh rahmat ilahi karena dosa-dosa telah melemahkan kebebasan itu. Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan kehidupannya di depan pengadilan ilahi tentang segala yang dikerjakannya, yang baik maupun yang jahat.
2.2. Penderitaan Dalam Sejarah
2.2.1. Menurut Perjanjian Lama
Pandangan Kitab Suci tentang penderitaan dilihat sebagai gangguan atas dunia ciptaan ini. Seluruh ciptaan diciptakan dalam keadaan baik dan bebas dari penderitaan (Kej 1:31). Sesudah dosa terjadi, maka penderitaan pun timbul dalam bentuk pertentangan, kesakitan, kebinasaan... dan maut (Kej 3:15-19). Beban penderitaan selalu dirasa berat oleh umat Allah (Kej 47:9; 2 Sam 14:14). Adanya penderitaan senantiasa menjadi persoalan karena dianggap didatangkan oleh Allah (Mzm 39:10), justru penderitaan harus dihubungkan dengan fakta kasih Allah, keadilan dan kebenaran-Nya (Mzm 73). Maka di tengah-tengah situasi seperti itu, manusia dipaksa untuk menentukan sampai di mana dia bisa hidup oleh iman.
Penderitaan kadang-kadang dapat dipandang sebagai hukuman yang dijatuhkan Allah atau ajaran guna memperbaiki cara hidup umat-Nya (Ams 3:12, Hak 2:22-3:6), atau untuk menguji maupun memurnikan manusia (Mzm 66:10, Yak 1:3, 12, 1 ptr 1:7) atau mendekatkannya kepada Allah dalam rangka ketaatan dan persekutuan yang baru bersama Allah ( Mzm 119:67). Penderitaan, jika dimengerti baik sebagai akibat dosa maupun sebagai suatu nilai, sebagai rintangan yang harus diatasi maupun sebagai sarana keselamatan, tidak bisa dipisahkan dari kebebasan manusia. Kebebasan manusia inilah yang harus mengambil keputusan tentang nilai positif atau negatifnya. Dalam PL, kebebasan dan penderitaan merupakan suatu misteri yang satu.
2.2.1. Menurut Perjanjian Baru
Penderitaan tidak dipandang sebagai tujuan itu sendiri, melainkan sebagai sarana kesempurnaan. Orang beriman mengambil bagian dalam penderitaan Yesus agar bisa mengambil bagian pada kemuliaan-Nya. (Rm 8:17).
Para penulis Perjanjian Baru memberi makna baru dari penderitaan, bahwa kasih Allah terlibat langsung dalam hidup manusia yang adalah ciptaan-Nya. Kristus menggenapi secara sempurna kehendak Allah dengan menjadi Hamba yang menderita. Penderitaan itu tidaklah timbul begitu saja sebagai akibat dari kesetiaan-Nya kepada Allah dalam melaksanakan panggilan-Nya, tetapi memang merupakan panggilan yang sesungguhnya yang mesti digenapi-Nya (Yes 53). Dalam penderitaan yang khas seperti itu, nampak makna baru yang menyatakan bahwa Satu Orang bisa menanggung derita dan menderita sebagai pengganti semua orang yang menjadi obyek penderitaan itu, dan sekaligus mewakili segenap orang yang mau menerima Satu Orang itu (lih Yes 53, 1 Ptr 2:24).
2.2.3. Menurut Tradisi
Para Bapa Gereja memandang penderitaan dalam kaca mata salib. Dan salib dipandang sebagai bentuk sempurna dari eksistensi kristiani. Salib ini juga ditemui dalam hidup sehari-hari, dalam penghayatan sakramen baptis dan dalam memenuhi dengan sabar perintah kasih. Menurut Yohanes Krisostomus, penderitaan mempunyai fungsi untuk memberi silih, menguduskan, memuliakan. Bagi Agustinus, penderitaan itu memperindah panorama kehidupan. Sebagaimana sebuah lukisan yang baik memiliki juga sisi yang kurang terang pada tempat yang sesuai, demikian juga segala sesuatu yang ada di dalam dunia. Kalau orang memperhatikan keseluruhannya, maka dunia ini indah dan harmonis, demikian juga halnya dengan dosa dan penderitaan di dalamnya. Memang, jika dosa dan penderitaan itu diperhatikan lebih lanjut akan merusakkan lukisan tersebut. namun dalam satu keseluruhan, adanya dosa dan penderitaan justru memperindah dan memberi warna kepada kehidupan.
Penderitaan sebenarnya adalah sesuatu yang berada di luar rancangan Allah tentang suatu dunia yang harmonis. Di dalam dunia yang diciptakan dapat saja terjadi hal-hal yang tidak direncanakan dan dikehendaki oleh Allah. Namun, sebagai Pencipta, Allah memiliki kesanggupan untuk memulihkan penyimpangan yang terjadi dalam hidup manusia. Dan tentunya diharapkan, dari itu semua manusia dapat belajar dan semakin mendalami rahasia ciptaan dan menekuni jalannya menuju pada Allah.
2.2.4. Menurut KV II
Konsili menjelaskan bahwa penderitaan membuat manusia menyerupai Kristus (AA 16). Lebih lanjut, Konsili melihat kaitan yang erat antara penderitaan dan eksistensi duniawi (LG 7). Bagi mereka yang mengalami penderitaan, Konsili mengajak dan menyerukan supaya mereka menyatukan diri dengan sengsara dan kematian Yesus demi kebaikan mereka, Gereja dan umat manusia (LG11).
III. Kebebasan dan Penderitaan
3.1. Kebebasan manusia
Kebebasan disebut sebagai sifat hakiki bagi manusia. Sebab kebebasan tidak dapat dikenakan kepada makhluk ciptaan lainnya. Kebebasan diperuntukkan bagi manusia agar manusia menjawab kasih Allah dan untuk hidup sesuai dengan kasih Allah itu sendiri. Dengan kata lain, Tuhan menganugerahi manusia kehendak yang bebas, sebab ia menghendaki agar manusia menyerupai diri-Nya, mencapai kesempurnaan, menjadi raja alam ini maupun dalam hatinya.
Dalam tulisannya, Nico Syukur Dister mengatakan bahwa kebebasan berarti manusia –berlawanan dengan binatang –merupakan makhluk yang tidak selesai. Ia menambahkan bahwa dengan memberikan kebebasan kepada manusia serta memanggil manusia kepada cinta kasihnya, Allah menjadi ikut bersama manusia menempuh perjalanan dan melibatkan diri dalam petualangan. Bentuk-bentuk kebebasan manusia bisa kita lihat dalam sejarah perjalanan manusia itu sendiri, seperti dalam Kebebasan manusia perjanjian lama dan perjanjian baru.
Kebebasan manusia Perjanjian lama
Dalam kehidupan perjanjian lama, kebebasan dihubungkan dengan system perbudakan atau penahanan dalam penjara. Dalam dunia kekuasaan para penguasa sering memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah (Kej 39:20). Dengan kata lain, suatu bangsa yang dikalahkan oleh bangsa yang kuat, bangsa tersebut akan menjadi tawanan perang dan budak.
Sebagaimana yang telah kita ungkapkan di atas bahwa kebebasan berarti kebahagiaan berdasarkan pembebasan dari perbudakan, memasuki kehidupan baru dan sukacita serta kepuasan yang tak mungkin diperoleh sebelumnya. Ketika bangsa yang diperbudak oleh bangsa yang kuat dan kini mereka mengalami suatu pembebasan dan bebas menikmati apa yang belum pernah dinikmati, maka hal ini biasanya disadari sebagai suatu anugerah dari Allah. Hal ini tidak diragukan lagi bahwa pernyataan di atas telah menjadi pengalaman bangsa Israel sebagaimana telah tercatat dalam peristiwa eksodus.
Dalam peristiwa eksodus, Allah membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir, supaya sejak itu Israel sebagai umat perjanjian-Nya melayani Dia (Kel 19:3). Menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana Allah memberi kenikmatan dalam pembebasan ini? Allah membawa orang-orang Israel masuk ke tanah yang berkelimpahan susu dan madu (kel 3:8) kemudian Allah menempatkan mereka di sana, memelihara mereka dalam kemerdekaan secara politis dan kemakmuran ekonomis, selama mereka menjauhi penyembahan berhalala dan memelihara hukum-hukum-Nya (Ul 28:1-14).
Melihat kenyataan ini, kita bisa tahu bahwa kemerdekaan orang-orang (bangsa) Israel tidak bergantung pada usaha-usahanya secara militer maupun politis melainkan terletak pada ketaatanNya kepada Allah. kemerdekaannya adalah anugerah ilahi, karunia Tuhan kepada umat pilihan-Nya sendiri yang tidak dapat dicapai berkat jasa mereka sendiri, dan kini tetap terpelihara hanya karena kemurahan-Nya yang tidak terputus-putus.
Kebebasan manusia Perjanjian baru
Pada jaman Yesus manusia mengalami ragam tekanan baik secara politis maupun secara budaya agama dan roh-roh jahat. Dari segi politik, orang-orang Yahudi mengalami tekanan dan intimidasi dari penjajahan bangsa Romawi. Mereka tidak bisa menentukan kebijakan mereka sendiri dan selalu di bawah kuasa bayang-bayang rejim Romawi. Melihat penjajahan kaum Romawi di daerahnya sendiri, muncul sekolompok garis keras yang ingin membebaskan diri dari intimidasi Romawi. Mereka adalah kaum Zelot yang memiliki ambisi dan dambaan untuk merdeka secara nasional dari penjajahan Roma.
Ketika Yesus datang dan mempromosikan diri sebagai pelayanan pembebasan. Ia memulainnya dengan memaklumkan diri-Nya sebagai penggenap dari Yes 61:1, “… Ia telah mengurapi aku…untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan” (bdk, Luk 4:16). Dengan menolak keinginan-keinginan orang Zelot, yang mendambakan kemerdekaan nasional dari penjajahan Roma, Kristus memaklumkan bahwa Ia telah datang untuk membebaskan Israel dari perbudakan kepada dosa dan iblis. Yesus berkata bahwa Ia datang untuk menjatuhkan “penguasa dunia ini”, orang kuat, dan untuk membebaskan tawanan-tawanannya (Yoh 12: 31).
Pengusiran setan (Mrk 3:22) dan penyembuhan (luk 13:16) adalah bagian dari karya pembebasan-Nya dari kuasa iblis. Kristus menunjukkan hal itu sebagai sebuah bukti positif bahwa kerajaan Allah sudah datang di tengah-tengah umat manusia. Kebebasan yang dialami oleh orang-orang adalah sebuah berkat dan anugerah Allah yang nyata lewat Kristus yang berbelaskasih.
3.2. Makna kebebasan bagi manusia
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa kebebasan mengandung makna pembebasan manusia dari perbudakan dosa. Manusia tidak lagi dikuasai oleh kedosaan dan tidak lagi menjadi milik dosa. Sebagaimana seorang budak–menurut hukum Roma–menjadi milik majikannya, dengan kebebasan mereka pun bebas dari hukum sejauh hukum itu menjadi pembantu dan antek dosa. (Gal 5:1;2:4; Rm 7:6). Kebebasan yang diterima oleh manusia tidak berarti bertindak sekehendak hati, sebab kebebasan yang demikian itu adalah sebenarnya perbudakan. kebebasan merupakan anugerah dari Allah yang diperuntukkan bagi manusia untuk saling mengasihi, dan melayani Allah dan Tuhan secara nyata (Rm 6:18.22).
3.3. Penderitaan manusia
Penderitaan dan sengsara selalu mengancam kehidupan manusia. Ancaman terhadap eksistensi manusia tidak pernah absen sejak kelahirannya. Banyak penyakit jasmani, kekecewaan dan malapetaka menyertainya hingga hari kematian. Demikian dalam seluruh sejarah umat manusia. Aneka kemajuan dalam segala bidang seringkali dibayar mahal dengan penderitaan.
Adanya penderitaan di dunia ciptaan ini dijadikan alasan paling kuat oleh para ateis untuk menyangsikan adanya Allah Yang Mahabaik dan sekaligus Mahakuasa. Sebab kalau Ia baik dan berkuasa, mengapa penderitaan dan malapetaka yang menimpa begitu banyak orang yang tak bersalah itu, tidak dicegah? Ataukah Allah itu baik? Atau, Ia memang baik tetapi kurang kuat? Dilema itu sudah diajukan oleh filsuf Epikuros pada abad ke-3 sM.
Fakta historis menunjukkan penderitaan telah menjadi pengalaman hidup manusia. Secara manusiawi kita dapat mengatakan bahwa Sang Pencipta sejak semula ikut “bersedih” atas penderitaan. Namun, tentu saja “kesedihan ilahi” itu tidak sama seperti kesedihan manusia. Mungkin dalam arti tertentu kita semakin mengetahui bahwa ada suatu solidaritas yang ditunjukkan oleh Allah terhadap manusia, yakni penderitaan antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan. Solidaritas ini memuncak dalam pengurbanan nyawa yang diterima oleh Yesus secara sukarela demi manusia yang dikasihi itu untuk membebaskan manusia dari segala penderitaan.
3.4. Makna penderitaan bagi manusia
Paus Yohannes Paulus II pernah mengemukakan bahwa penderitaan bukanlah hukuman, tetapi suatu kesempatan untuk membersihkan dosa-dosa kita; secara khusus diarahkan pada kebaikan sama saudara kita: sebagaimana Kristus yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang. Dengan Yesus Kristus di hadapan kita, berjalanlah kita dengan lebih bergegas, oleh karena Ia memberikan makna dan arah kepada semua kesusahan atau kepedihan kita.
Yesus telah mengubah secara radikal arti dan nilai dari penderitaan. Penderitaan tidak lagi sekedar tanda kerapuhan dan ketidakmampuan manusia, tetapi menjadi peralihan kepada pemulihan dan kepenuhan realisasi diri. Dengan penyerahan diri Manusia Allah terpenuhilah penyelamatan umat manusia. Ia telah menderita seperti manusia demi manusia. Dengan demikian, derita fisik ataupun moral yang dipersatukan dalam penderitaan Kristus, memiliki kesanggupan untuk mengubahnya dalam diri setiap manusia yang telah diperbaharui. (bdk, Salvifici Doloris, no.23).
Penderitaan mengandung suatu panggilan khusus keutamaan, yang harus dilaksanakan sendiri oleh manusia sesuai dengan kewajibannya. Dalam hal ini merupakan keutamaan ketekunan dalam melaksanakan apa saja yang membingungkannya dan merugikannya. Dengan berbuat demikian maka individu tadi memegang pengharapan, yang memelihara dalam dirinya keyakinan bahwa penderitaan tidak akan merampas martabatnya sebagai seorang manusia, suatu martabat yang erat berhubungan dengan kesadaran akan makna kehidupan. Sepanjang abad dan dari generasi ke generasi telah terlihat bahwa di dalam penderitaan tersembunyi suatu kekuatan yang khusus, yang menarik seseorang secara batin dekata kepada Kristus, suatu rahmat khusus. Berkat rahmat ilahi maka banyak orang kudus, seperti misalnya St. Fransiskus Asisi, St. Ignatius dari Loyola dan orang-orang lain, bertobat secara mendalam. sebagai akibat pertobatan semacam ini bukan hanya individu itu saja yang menemukan arti penyelamatan dari penderitaannya tetapi lebih-lebih ia menjadi orang yang sama sekali baru. Dia menemukan suatu dimensi baru, yang menyangkut seluruh hidup dan panggilannya. (bdk, salvifici doloris, no. 26).
Penderitaan juga mempunyai makna baru bagi orang-orang yang menjadi anggota tubuh Kristus. Mereka turut menderita dalam penderitaan Kristus (2 Kor 1:5, Mrk 10:39, Rm 8:17), dan menganggap dirinya wajib menanggung penderitaan atau terpanggil kepada penderitaan. Apapun bentuk penderitaan orang Kristen, hal itu dapat dianggap sebagai salib yang wajib dipikul dalam rangka mengikuti Yesus di jalan salib-Nya. Penderitaan Kristus pada hakikatnya adalah pada purna dan genapnya untuk membebaskan semua orang (Yes 53:4-6), Ibr 10:14). Penderitaan yang ditanggung oleh setiap pengikut Kristus dapat disebut menggenapkan apa yang belum tercakup dalam penderitaan Kristus (Kol 1:24). Ini semua karena kasih karunia, dan sama sekali bukan upaya keharusan untuk menebus dirinya sendiri. Dengan inilah kita dapat bersekutu dengan Dia dalam penderitaan-Nya.
IV. Kebebasan dan Penderitaan dalam Yesus Kristus
Salah satu pemberian Allah kepada manusia yang tidak pernah diambil Allah kembali adalah “kebebasan”. Allahlah yang memberikan kebebasan kepada manusia dan Allah sendiri tidak pernah mencabut kebebasan itu dari manusia. Allah memberikan kebebasan kepada manusia dengan tujuan baik namun dalam perjalanan waktu kebebasan itu disalahgunakan oleh manusia akibatnya manusia jatuh pada penderitaan. Manusia sadar bahwa kebebasan itu adalah miliknya sendiri dan tidak ada yang bisa menganggu-gungat kebebasan itu dari dirinya maka kebebasan dipergunakan seturut kemauannya. Manusia tidak sadar bahwa penyalahgunaan kebebasan itu bukan saja hanya membuat dirinya menderita tetapi juga ciptaan lainnya.
Penyalahgunaan kebebasan membuat manusia dan ciptaan lainnya menderita. Dan penderitaan ini bukan bukan sekedar membuat manusia itu “sakit” tetapi juga membuat manusia itu mati. Mati secara fisik dan mati secara rohani. Manusia mati karena manusia mengalami keterputusan hubungan dengan sesama dan Tuhan. “mati” menjadi tanda bahwa manusia dalam dirinya sendiri tidak pernah bisa membebaskan diri dari penderitaan yang di alaminya. Artinya penderitaan sebagai akibat penyalahgunaan kebebasan tidak mampu dipulihkan manusia sendiri akibatnya manusia kembali “berteriak minta tolong” kepada PenciptaNya.
Manusia berteriak minta tolong menjadi bukti bahwa manusia tidak mempunyai daya atau kemampuan apa-apa disaat manusia putus hubungan dengan Tuhan dan sesamanya. Kesadaran seperti ini muncul disaat penderitaan datang menimpa dirinya. Kesadaran akan ketidakmampuan membuat manusia tak berdaya, manusia goncang, manusia terpenjara dalam derita hidup. Inilah gambaran manusia yang menderita karena dosa. Rasul paulus dengan jelas berkata maut masuk ke dunia oleh dosa (Rm 5:12) dan Paulus menyebut maut sebagai upah dosa (Rm 1:32: 6:21: I Kor 15:56), dosa juga memimpin pada kematian (Rm 6:16) . Dan maut ini hanya boleh dikalahkan oleh Allah sendiri.
4.1. Yesus Kristus Sang Pembebas
4.1.1. Dalam Perjanjian Lama
Disaat manusia tidak berdaya untuk melepaskan diri dari penderitaan Allah menjalankan peran-Nya sebagai pembebas. Peran Allah sebagai pembebas sudah dimulai sejak jaman perjanjian lama walaupun pembebasan itu hadir secara defenitif pada jaman perjanjian baru. Dalam perjanjian lama Allah memperkenalkan diri sebagai pembebas yakni YHWH, Allah yang menempatkan diri dipihak orang yang dianiaya sambil menjadikan urusan mereka urusanNya . YHWH membebaskan manusia dari segala sesuatu yang membuat manusia itu menderita sebagai akibat dari penyalah gunaan kebebasannya seperti dosa, penyakit, maut, ketakutan dari kuasa setan, perbudakan, penindasan, pembuangan. Sehubugan dengan ini dalam Yes 41:14 sangat jelas dikatakan demikian” terdorong oleh keadilan dan belaskasihNya YHWH dalam perjanjiaanya mendampingi bangsanya (bdk Mzm 130) demi tercapainya damai sejahtera . Memang dengan melihat dosa dan kesalahan manusia, manusia tidak layak lagi untuk dibebaskan namun Allah tidaklah berpikir sebagaimana manusia berpikir.
4.1.2. Dalam Perjanjian Baru
Dalam perjanjian baru Allah sebagai pembebas nyata dalam diri PutraNya Yesus Kristus. Allah mengutus Yesus Kristus Puteranya ke dunia untuk melanjutkan misiNya yang menyelamatkan. Karena Allah tahu bahwa hanya Dialah melalui Putranya Yesus Kristus manusia dan dunia yang diciptakanNya bisa terbebas dari penderitaan. Terbebas bukan berarti sekedar sembuh dari penderitaan tetapi Allah dalam diri Kristus memulihkan manusia dan dilayakkan kembali menjadi anak-anak Allah. Karena itu penebusan Allah mengalir lewat pengurbanan diri PuteraNya yang juga rela menderita sengsara, wafat untuk membebaskan manusia dari belenggu penderitaan.
Dalam kerangka keselamatan manusia Tuhan “memakai” penderitaan untuk menyadarkan manusia dalam mempertahankan kemurnian imanya kepada Allah. Jadi penderitaan merupakan suatu sarana rahmat bagi bangsa manusia. Yesus mau melakukan ini tentu karena Yesus mengasihi manusia.
Yesus hadir di dunia ini adalah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu penderitaan yang diakibatkan oleh dosa. Manusia dibebaskan oleh Yesus dengan berpuncak pada pengurbanan diriNya di kayu salib. Dalam wafat dan kebangkitan Yesus di dalamnya nyata karya keselamatan Allah. Paulus mengatakan bahwa Yesus wafat karena dosa-dosa kita ( Gal 1:4; Rm 8:3) atau karna kita dan untuk kita (I Tes 5:10; Rm 6:6.8) biasanya dikatakan bahwa dengan kata-kata itu dimaksudkan wafat Yesus sebagai kurban untuk melunasi dosa-dosa kita . Pada Mrk sangat jelas dikatakan bahwa anak manusia datang dan memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang.( Mrk 10:45).
4.1.3. Salib Puncak Pembebasan dan Akhir dari Penderitaan
Kematian Yesus untuk membebaskan manusia menunjukkan kepada kita bahwa inti sari iman kita adalah sengsara wafat dan kebangkitan Yesus. Wafat Kristus adalah solidaritas Allah dengan manusia sampai kedalam kematian dan dalam kebangkitan Kristus kesatuan Allah dengan manusia itu dibawa kepada kepenuhannya. Salib dikatakan sebagai puncak pembebasan manusia adalah karena Yesus tidak tanggung-tanggung menjalankan misi penebusannya. Ia menyerahkan Nyawanya untuk memulihkan manusia. Dan darahnya ditumpahkan untuk menebus manusia. Kematian Yesus di salib menjadi akhir dari segala penderitaan manusia artinya bahwa salib menjadi titik balik bagi manusia untuk menemukan kembali kemanusiaanya yang sempat hilang dan tercemari oleh dosa.
Dengan salib-Nya yang mulia Kristus telah memperoleh keselamatan bagi semua manusia. Ia telah membebaskan manusia dari dosa yang membelenggunya. Kristus telah memerdekakan mereka (Gal 5:1). Di dalam Dia kita mengambil kebenaran yang memerdekakan (Yoh 8:32). Demikian santo Paulus mengajarkan sejak sekarang kita bermegah bahwa kita telah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm 8:21) (KHK 1741)
Di sini jelas bahwa salib telah sungguh-sungguh membebaskan manusia dari penderitaan. Salib menjadi titik balik lahirnya manusia baru karena kebebasan Allah tidak berhenti di dunia tetapi juga kelak di akhirat.
4.1.4. Kebangkitan Yesus Permulaan Hidup Baru
Jelaslah bahwa Yesus membebaskan manusia dari penderitaan dengan penderitaan. Karena itu kebangkitan Yesus dari kematian merupakan Permulaan hidup baru atau ciptaan baru (2 Kor 5:17), kebangkitanNya merupakan; dasar pengharapan kita akan penyelesaian serta penyempurnaan karya pembebasan Allah, kebangkitaNya juga menjadi jaminan ilahi bahwa Allah meneruskan kegiatan pembebasan sampai akhir .
Kebangkitan Yesus tidak hanya sekedar membebaskan manusia dari penderitaan selama manusia berada di dunia ini melainkan juga di akhirat kelak. Itu berarti bahwa kebangkitan itu memiliki daya yang luar biasa karena manusia dapat dibebaskan dari penderitaan sampai kepada kebangkitanya kelak. Hal ini hendak mengatakan bahwa peristiwa salib tidak berhenti pada saat itu juga melainkan sampai saat ini dan bahkan selama-lamanya.
4.2. Makna Kebebasan Dan Penderitaan dalam Iman Kristiani
Kebebasan manusia sering menyebabkan manusia tidak peduli untuk memenuhi kewajibannya sebagai ciptaan Allah, sebagai putra Allah yang terkasih dan sebagai manusia baru. Sampai saat ini akibat dari ketidaksetiaan manusia terhadap Tuhan manusia sendiri tidak sanggup membaca tanda-tanda jaman dengan mata iman. Ketidaksetiaan manusia kepada Tuhan terungkap dari penyalahgunaan kebebasan yang Tuhan berikan kepada manusia, akibatnya manusia itu sendiri menderita. Karena penderitaan manusia dan ciptaan, Allah dalam diri Putranya harus juga menderita guna membebaskan manusia dari penderitaanya itu. Di sini ada satu paradoks yaitu bahwa pemberontakan dan ketidaksetiaan manusia justru dibalas Tuhan dengan suatu janji keselamatan. Kelahiran, penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus merupakan puncak terpenuhinya janji keselamatan Tuhan kepada manusia.
Untuk jaman kita sekarang masih banyak orang yang menggunakan kebebasan semaunya tanpa memikirkan resikonya atau bahkan manusia tahu resiko perbuatannya tetapi ia menutup mata untuk itu. Ia tidak peduli dengan penderitaan yang akan terjadi sebagai akibat dari penyalahgunaan kebebasan itu.
Di tengah dunia modern manusia sering disilaukan oleh keuntungan materil, kemewahan hidup dan nafsu kuasa yang membutakan mata mereka terhadap penderitaan dan kesengsaraan sesamanya, lalu berpura-pura bermain dan berperan sebagai manusia sosial dengan sumbangan-sumbangan pesta dan resepsi. Semuanya dilakukan supaya dipuji, demi gengsi, agar menenangkan situasi. Inilah gambaran-gambaran penyalahgunaan kebebasan untuk jaman kita sekarang. Manusia tidak peduli akan penderitaan sesamanya dan ciptaan lainnya. Hal seperti itu bisa terjadi di saat manusia tidak bisa mengerti makna penderitaan Yesus dan sengsaranya. Jika manusia mengerti seharusnya manusia bisa menjadikannya sebagai sekolah.
Pederitaan Yesus dan sengsaraNya seharusnya menjadi suatu sekolah untuk berkorban dan menguduskan diri bagi manusia yang sadar. Manusia harus disadarkan bahwa sengsara dan penderitaan Yesus sesungguhnya adalah akibat dosa kita manusia. Meski berat sengsara yang di deritaNya di salib,Yesus tidak pernah mundur hanya demi keselamatan manusia. Maka manusia harus semakin paham bahwa sungguh jahatlah dosa itu. Karena itu sebagaimana santo Paulus menasehati umatnya supaya bertekun dalam iman setiap kali mereka mengalami penderitaan dan sengsara . Kita harus belajar untuk berani menghadapi godaan dan cobaan. Kita harus berani menjauhkan setiap kesempatan yang dapat membawa kita ke dalam dosa. Kita harus memanfaatkan kebebasan itu demi kebaikan manusia dan ciptaan dan demi kemuliaan Allah.
V. Penutup
Kita telah memahami apa arti dari kebebasan dan penderitaan dalam hidup manusia sebagai ciptaan Allah. Kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan-Nya tidak lain dan tidak bukan hanyalah semata-mata untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sebab dengan kebebasannya, manusia diinginkan untuk melayani dan mencintai ciptaan lainnya sehingga lewat kebebasannya Allah juga dimuliakan dan diagungkan. Namun, lewat sejarah kehidupan manusia, makna kebebasan rupanya tidak dipertanggungjawabkan oleh manusia sendiri sehingga muncul suatu realitas manusia yang tak terelakkan, yakni kelahiran sebuah penderitaan. Penderitaan lahir dari sebuah ketidak-bertanggungjawaban manusia akan makna kebebasan itu sendiri. Penderitaan menjadi silih berganti baik itu lewat perbudakan maupun lewat perhambaan kuasa si jahat lainnya. Dengan menderita, manusia kembali berteriak-teriak menyerukan pertolongan Allah dan tak henti-hentinya manusia memohon agar penderitaan dijauhkan dari kehidupan manusia. Oleh karena cinta-Nya yang amat besar terhadap manusia, Allah hadir dalam pribadi Yesus yang ikut menderita bersama manusia. Allah kini solider dan peduli pada penderitaan manusia. Dengan kesolideran-Nya yang maha besar, Yesus hadir dan membebaskan kembali penderitaan manusia dengan cara mengorbankan diri-Nya menyerahkan diri-Nya bagi manusia. Maka dengan semangat cinta yang ditunjukkan-Nya, Allah mengharapkan kembali kesetiaan dan hormat dari manusia.
Daftar Pustaka
Dister, Nico Syukur, Teologi Sistematis 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004
Groenen, C. Dr. OFM., Soteriologi Alkitab, Keselamatan Yang Diberitakan Alkitab, Yogyakarta: Kanisius, 1989
Yohanes Paulus II, Tentang Sakit dan Derita, Maumere: Ledalero, 2010
Handoko, Petrus Maria Dr. CM., Dicipta Untuk Dicinta: Antropologis Teologis Teologis Fundamental, (Diktat), Malang: STFT Widya Sasana 1996
Kleden, Paul Budi, SVD, Membongkar Derita Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi, Maumere: Ledalero, 2006,
Klein, Paul, Kebebasan Kreatif Menurut Nikolay Berdiayev. Maumere: Ledalero, 2008
Manehat, Piet, Butir-Butir Mutiara Kehidupan Kristiani, Jakarta: Yanense Mitra Sejati, 1996
Dokumen
Dokumen KV II dalam Gaudium et Spes artikel 17., Jakarta: Obor 1993
Konfrensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Buku Informasi dan Refrensi, Yogyakarta: Kanisus, 1996
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992
A. Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja III, Jakarta: Cipta Loka Caraka 1993
Konferensi Waligereja Indonesia, Katekismus Gereja Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 1993.
by: Lucius Tumanggor, SVD
I. Pengantar
Sejak awal penciptaan Allah sudah membuat manusia istimewa dari ciptaan lainnya. Perbedaan itu sudah tampak disaat Allah mau menciptakan manusia. Perbedaan itu dapat kita lihat dalam kitab suci (kej 1) yang memberikan rumusan demikian; ketika Allah menciptakan ciptaan lain rumusannya demikian, “ berfirmanlah Allah: jadilah… maka jadilah…” (lih. Kej 1) namun ketika Allah hendak menciptakan manusia rumusannya sedikit berubah dimana dikatakan “ baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita supaya mereka berkuasa…..(kej 1:26-28). Dalam rumusan ini ada diskusi sebelum menciptakan manusia dan yang paling istimewa lagi bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan juga manusia diberi kebebasan untuk menguasai ciptaan-ciptaan lainya. Suatu kepercayaan yang luar biasa dari Allah untuk manusia.
Manusia sebagai ciptaan yang paling istimewa diberi-Nya kebebasan. Kebebasan untuk memelihara ciptaan. Kebebasan manusia itu adalah kebebasan yang merupakan kemampuan yang berakar dalam akal budi dan kehendak untuk bertindak demi kebaikan manusia dan demi kemuliaan Allah. Kebebasan itu harus senantiasa diarahkan kepada Allah (bdk KHK 1731). Allah mengharapkan dengan kebebasan manusia bertanggungjawab atas perbuatan sejauh ia menghendakinya. Allah tidak pernah menghendaki kebebasan manusia itu digunakan untuk mengatakan dan melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan baik dan buruk artinya kebebasan itu bukan untuk dipergunakan semaunya.
Dalam sejarah perjalanan hidup manusia, kebebasan itu ternyata disalahgunakan. Manusia tidak lagi menggunakan kebebasan untuk memelihara ciptaan melainkan untuk mengeksploitasi ciptaan dengan tanpa atauran akibatnya ciptaan rusak, ciptaan menderita. Kebebasan yang Tuhan berikan yang pada awalnya bertujuan untuk kebaikan manusia, ciptaan dan kemuliaan Allah berubah menjadi sumber penderitaan bagi ciptaan.
Dalam paper ini akan dibahas Penyalahgunaan kebebasan dan penderitaan yang bersumber dari penyalahgunaan kebebasan itu sendiri. Jadi penderitaan yang kami maksudkan disini hanyalah penderitaan sebagai akibat dari penyalahgunaan kebebasan manusia.
II. Kebebasan dan Penderitaan Dalam Sejarah
2.1. Kebebasan Dalam Sejarah
2.1.1. Menurut Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, pemahaman kebebasan bermula dari tindakan penyelamatan Yahweh dan dari tuntutan perjanjian yang mengangkat sejarah. Perjanjian Lama menunjukkan bahwa manusia mampu mengambil keputusan bebas, dan seringkali menghimbau pada kekuatan manusia untuk menentukan pilihan, karena itu perlu suatu sikap tanggung jawab dari manusia. Keyakinan akan kebebasan manusia ini secara implisit sudah tertera dalam penampakan Allah yang adalah kebebasan tertinggi.
Lebih lanjut, pandangan Kitab Suci tentang kebebasan dilatarbelakangi pemikiran tentang penahanan dalam penjara atau perbudakan. Para penguasa memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah (Kel 39:20); suatu bangsa yang dikalahkan akan diperbudak oleh bangsa yang mengalahkannya, atau menjadi tawanan perang oleh penakluknya, atau seperti Yusuf, dijual sebagai budak. Ketika Kitab Suci berbicara tentang pembebasan, di dalamnya terkandung pengertian tentang perbudakan sebelum pembebasan itu.
2.1.2. Menurut Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru, yang menjadi fokus perhatiannya bukanlah kebebasan asali manusia tetapi kebebasan manusia yang harus dibebaskan. Namun demikian, manusia tetap memiliki kebebasan asali yang diberikan oleh Allah. Kebebasan asali yang diberikan Allah kepada manusia selalu dikaitkan dengan karya penyelamatan Allah. Hal inilah yang menegaskan bahwa kebebasan asali itu adalah demi kebaikan. Allah sendiri melalui Putra-Nya membebaskan umat-Nya karena manusia jatuh ke dalam dosa. Pelayanan Kristus adalah pelayanan pembebasan. Rasul Paulus sering mengatakan bahwa Kristus membebaskan orang yang percaya, di sini dan kini, dari pengaruh-pengaruh yang bersifat merusak, yang dahulu memperbudak mereka, yakni dosa, penguasa yang kejam (Rm 6:18-23); dari hukum Taurat sebagai sistem keselamatan yang membangkitkan dosa (Gal 4:21, 5:1, Rm 6:14), dari kuasa kegelapan yang jahat (Kol 1:13), dari kepercayaan kepada ilah-ilah takhayul (1Kor 10:29), dari beban upacara-upacara agama Yahudi (Gal2:4). Dari semuanya itu, nampak bahwa Paulus ingin menegaskan, kebebasan dosa yang telah berakar (Rm 7:14; 23).
Kebebasan manusia dengan demikian adalah kebebasan yang harus dibebaskan, sebab manusia berada di bawah perbudakan dosa. Dengan kekuatannya sendiri manusia tidak bisa membebaskan dirinya. Hanya dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia itu bisa membebaskan dirinya sebab dalam Kristus Yesus, setiap manusia benar-benar dibebaskan dari dosa (Rm 8:1-4). Pembebasan membawa serta pengangkatan menjadi anak (Gal 4:5); mereka yang dibebaskan dari dosa menjadi anak-anak Allah dan menerima Roh Kristus sebagai Roh pengangkatan, yang memberikan jaminan bahwa mereka adalah sunguh-sungguh anak Allah dan pewaris-Nya (Gal 4:6, Rm 8:15).
2.1.3. Menurut Tradisi
Bapa Gereja melihat kebebasan dalam arti kehendak bebas manusia sebagai kehormatan yang diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan. Kebebasan manusia itu menjadi suatu bukti bahwa manusia juga menentukan keputusannya sendiri yang sejati.
Irenius mengatakan bahwa, “Manusia itu adalah makhluk berakal budi, dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia adalah tuan atas tingkah lakunya itu.” Menurut Agustinus, ketika manusia menyalahgunakan kehendak bebasnya, manusia kehilangan kehendak bebasnya dan dengan demikian juga kehilangan dirinya. Manusia adalah citra Allah dan diciptakan kepada kebaikan. Kebebasan itu hendaknya juga mengarah kepada kebaikan. Manusia yang kehilangan kebebasannya itu menjadi hamba dosa, dan dengan demikian manusia itu juga menyangkal jati dirinya sebagai citra Allah. Agustinus juga memahami kebebasan yang memiliki kaitan dengan soal rahmat, yaitu cinta kasih yang menggerakkan manusia dengan pasti dan bebas kepada Allah. Tanpa rahmat, kehendak manusia tidak mampu menginginkan yang baik, sebab kebebasan manusia sejak semula terluka karena dosa yang telah dibuat oleh manusia. Dan itulah yang melemahkan kehendak bebas manusia.
2.1.4. Menurut KV. II
Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa “hanya secara bebas manusia dapat mengarahkan dirinya pada yang baik. Kebebasan ini sangatlah dihargai dan dituntut dengan tegas oleh manusia sekarang ini. Namun, seringkali kebebasan ini ditafsirkan secara salah, seakan manusia boleh bertindak sewenang-wenang asalkan bisa menyenangkan hatinya sekalipun keinginannya jahat. Namun demikian, kebebasan sejati adalah ciri yang paling jelas bahwa manusia adalah sungguh citra Allah. Allah sendiri telah berkenan membiarkan manusia mengambil keputusannya sendiri (Sir 15:15) supaya dengan rela ia mencari Allah, supaya manusia secara bebas mencapai kesempurnaan yang bulat dan bahagia bersama dengan Tuhan-Nya.
Martabat manusia menuntut supaya manusia bertindak menurut pilihannya yang diambil secara sadar dan bebas. Keputusan ini hendaknya berasal dari keyakinan pribadi dan bukan semata-mata dari nafsu buta belaka. Manusia hanya dapat mengarahkan diri sepenuhnya kepada Allah jika ia bebas dan dibantu oleh rahmat ilahi karena dosa-dosa telah melemahkan kebebasan itu. Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan kehidupannya di depan pengadilan ilahi tentang segala yang dikerjakannya, yang baik maupun yang jahat.
2.2. Penderitaan Dalam Sejarah
2.2.1. Menurut Perjanjian Lama
Pandangan Kitab Suci tentang penderitaan dilihat sebagai gangguan atas dunia ciptaan ini. Seluruh ciptaan diciptakan dalam keadaan baik dan bebas dari penderitaan (Kej 1:31). Sesudah dosa terjadi, maka penderitaan pun timbul dalam bentuk pertentangan, kesakitan, kebinasaan... dan maut (Kej 3:15-19). Beban penderitaan selalu dirasa berat oleh umat Allah (Kej 47:9; 2 Sam 14:14). Adanya penderitaan senantiasa menjadi persoalan karena dianggap didatangkan oleh Allah (Mzm 39:10), justru penderitaan harus dihubungkan dengan fakta kasih Allah, keadilan dan kebenaran-Nya (Mzm 73). Maka di tengah-tengah situasi seperti itu, manusia dipaksa untuk menentukan sampai di mana dia bisa hidup oleh iman.
Penderitaan kadang-kadang dapat dipandang sebagai hukuman yang dijatuhkan Allah atau ajaran guna memperbaiki cara hidup umat-Nya (Ams 3:12, Hak 2:22-3:6), atau untuk menguji maupun memurnikan manusia (Mzm 66:10, Yak 1:3, 12, 1 ptr 1:7) atau mendekatkannya kepada Allah dalam rangka ketaatan dan persekutuan yang baru bersama Allah ( Mzm 119:67). Penderitaan, jika dimengerti baik sebagai akibat dosa maupun sebagai suatu nilai, sebagai rintangan yang harus diatasi maupun sebagai sarana keselamatan, tidak bisa dipisahkan dari kebebasan manusia. Kebebasan manusia inilah yang harus mengambil keputusan tentang nilai positif atau negatifnya. Dalam PL, kebebasan dan penderitaan merupakan suatu misteri yang satu.
2.2.1. Menurut Perjanjian Baru
Penderitaan tidak dipandang sebagai tujuan itu sendiri, melainkan sebagai sarana kesempurnaan. Orang beriman mengambil bagian dalam penderitaan Yesus agar bisa mengambil bagian pada kemuliaan-Nya. (Rm 8:17).
Para penulis Perjanjian Baru memberi makna baru dari penderitaan, bahwa kasih Allah terlibat langsung dalam hidup manusia yang adalah ciptaan-Nya. Kristus menggenapi secara sempurna kehendak Allah dengan menjadi Hamba yang menderita. Penderitaan itu tidaklah timbul begitu saja sebagai akibat dari kesetiaan-Nya kepada Allah dalam melaksanakan panggilan-Nya, tetapi memang merupakan panggilan yang sesungguhnya yang mesti digenapi-Nya (Yes 53). Dalam penderitaan yang khas seperti itu, nampak makna baru yang menyatakan bahwa Satu Orang bisa menanggung derita dan menderita sebagai pengganti semua orang yang menjadi obyek penderitaan itu, dan sekaligus mewakili segenap orang yang mau menerima Satu Orang itu (lih Yes 53, 1 Ptr 2:24).
2.2.3. Menurut Tradisi
Para Bapa Gereja memandang penderitaan dalam kaca mata salib. Dan salib dipandang sebagai bentuk sempurna dari eksistensi kristiani. Salib ini juga ditemui dalam hidup sehari-hari, dalam penghayatan sakramen baptis dan dalam memenuhi dengan sabar perintah kasih. Menurut Yohanes Krisostomus, penderitaan mempunyai fungsi untuk memberi silih, menguduskan, memuliakan. Bagi Agustinus, penderitaan itu memperindah panorama kehidupan. Sebagaimana sebuah lukisan yang baik memiliki juga sisi yang kurang terang pada tempat yang sesuai, demikian juga segala sesuatu yang ada di dalam dunia. Kalau orang memperhatikan keseluruhannya, maka dunia ini indah dan harmonis, demikian juga halnya dengan dosa dan penderitaan di dalamnya. Memang, jika dosa dan penderitaan itu diperhatikan lebih lanjut akan merusakkan lukisan tersebut. namun dalam satu keseluruhan, adanya dosa dan penderitaan justru memperindah dan memberi warna kepada kehidupan.
Penderitaan sebenarnya adalah sesuatu yang berada di luar rancangan Allah tentang suatu dunia yang harmonis. Di dalam dunia yang diciptakan dapat saja terjadi hal-hal yang tidak direncanakan dan dikehendaki oleh Allah. Namun, sebagai Pencipta, Allah memiliki kesanggupan untuk memulihkan penyimpangan yang terjadi dalam hidup manusia. Dan tentunya diharapkan, dari itu semua manusia dapat belajar dan semakin mendalami rahasia ciptaan dan menekuni jalannya menuju pada Allah.
2.2.4. Menurut KV II
Konsili menjelaskan bahwa penderitaan membuat manusia menyerupai Kristus (AA 16). Lebih lanjut, Konsili melihat kaitan yang erat antara penderitaan dan eksistensi duniawi (LG 7). Bagi mereka yang mengalami penderitaan, Konsili mengajak dan menyerukan supaya mereka menyatukan diri dengan sengsara dan kematian Yesus demi kebaikan mereka, Gereja dan umat manusia (LG11).
III. Kebebasan dan Penderitaan
3.1. Kebebasan manusia
Kebebasan disebut sebagai sifat hakiki bagi manusia. Sebab kebebasan tidak dapat dikenakan kepada makhluk ciptaan lainnya. Kebebasan diperuntukkan bagi manusia agar manusia menjawab kasih Allah dan untuk hidup sesuai dengan kasih Allah itu sendiri. Dengan kata lain, Tuhan menganugerahi manusia kehendak yang bebas, sebab ia menghendaki agar manusia menyerupai diri-Nya, mencapai kesempurnaan, menjadi raja alam ini maupun dalam hatinya.
Dalam tulisannya, Nico Syukur Dister mengatakan bahwa kebebasan berarti manusia –berlawanan dengan binatang –merupakan makhluk yang tidak selesai. Ia menambahkan bahwa dengan memberikan kebebasan kepada manusia serta memanggil manusia kepada cinta kasihnya, Allah menjadi ikut bersama manusia menempuh perjalanan dan melibatkan diri dalam petualangan. Bentuk-bentuk kebebasan manusia bisa kita lihat dalam sejarah perjalanan manusia itu sendiri, seperti dalam Kebebasan manusia perjanjian lama dan perjanjian baru.
Kebebasan manusia Perjanjian lama
Dalam kehidupan perjanjian lama, kebebasan dihubungkan dengan system perbudakan atau penahanan dalam penjara. Dalam dunia kekuasaan para penguasa sering memenjarakan orang-orang yang dipandang bersalah (Kej 39:20). Dengan kata lain, suatu bangsa yang dikalahkan oleh bangsa yang kuat, bangsa tersebut akan menjadi tawanan perang dan budak.
Sebagaimana yang telah kita ungkapkan di atas bahwa kebebasan berarti kebahagiaan berdasarkan pembebasan dari perbudakan, memasuki kehidupan baru dan sukacita serta kepuasan yang tak mungkin diperoleh sebelumnya. Ketika bangsa yang diperbudak oleh bangsa yang kuat dan kini mereka mengalami suatu pembebasan dan bebas menikmati apa yang belum pernah dinikmati, maka hal ini biasanya disadari sebagai suatu anugerah dari Allah. Hal ini tidak diragukan lagi bahwa pernyataan di atas telah menjadi pengalaman bangsa Israel sebagaimana telah tercatat dalam peristiwa eksodus.
Dalam peristiwa eksodus, Allah membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir, supaya sejak itu Israel sebagai umat perjanjian-Nya melayani Dia (Kel 19:3). Menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana Allah memberi kenikmatan dalam pembebasan ini? Allah membawa orang-orang Israel masuk ke tanah yang berkelimpahan susu dan madu (kel 3:8) kemudian Allah menempatkan mereka di sana, memelihara mereka dalam kemerdekaan secara politis dan kemakmuran ekonomis, selama mereka menjauhi penyembahan berhalala dan memelihara hukum-hukum-Nya (Ul 28:1-14).
Melihat kenyataan ini, kita bisa tahu bahwa kemerdekaan orang-orang (bangsa) Israel tidak bergantung pada usaha-usahanya secara militer maupun politis melainkan terletak pada ketaatanNya kepada Allah. kemerdekaannya adalah anugerah ilahi, karunia Tuhan kepada umat pilihan-Nya sendiri yang tidak dapat dicapai berkat jasa mereka sendiri, dan kini tetap terpelihara hanya karena kemurahan-Nya yang tidak terputus-putus.
Kebebasan manusia Perjanjian baru
Pada jaman Yesus manusia mengalami ragam tekanan baik secara politis maupun secara budaya agama dan roh-roh jahat. Dari segi politik, orang-orang Yahudi mengalami tekanan dan intimidasi dari penjajahan bangsa Romawi. Mereka tidak bisa menentukan kebijakan mereka sendiri dan selalu di bawah kuasa bayang-bayang rejim Romawi. Melihat penjajahan kaum Romawi di daerahnya sendiri, muncul sekolompok garis keras yang ingin membebaskan diri dari intimidasi Romawi. Mereka adalah kaum Zelot yang memiliki ambisi dan dambaan untuk merdeka secara nasional dari penjajahan Roma.
Ketika Yesus datang dan mempromosikan diri sebagai pelayanan pembebasan. Ia memulainnya dengan memaklumkan diri-Nya sebagai penggenap dari Yes 61:1, “… Ia telah mengurapi aku…untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan” (bdk, Luk 4:16). Dengan menolak keinginan-keinginan orang Zelot, yang mendambakan kemerdekaan nasional dari penjajahan Roma, Kristus memaklumkan bahwa Ia telah datang untuk membebaskan Israel dari perbudakan kepada dosa dan iblis. Yesus berkata bahwa Ia datang untuk menjatuhkan “penguasa dunia ini”, orang kuat, dan untuk membebaskan tawanan-tawanannya (Yoh 12: 31).
Pengusiran setan (Mrk 3:22) dan penyembuhan (luk 13:16) adalah bagian dari karya pembebasan-Nya dari kuasa iblis. Kristus menunjukkan hal itu sebagai sebuah bukti positif bahwa kerajaan Allah sudah datang di tengah-tengah umat manusia. Kebebasan yang dialami oleh orang-orang adalah sebuah berkat dan anugerah Allah yang nyata lewat Kristus yang berbelaskasih.
3.2. Makna kebebasan bagi manusia
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa kebebasan mengandung makna pembebasan manusia dari perbudakan dosa. Manusia tidak lagi dikuasai oleh kedosaan dan tidak lagi menjadi milik dosa. Sebagaimana seorang budak–menurut hukum Roma–menjadi milik majikannya, dengan kebebasan mereka pun bebas dari hukum sejauh hukum itu menjadi pembantu dan antek dosa. (Gal 5:1;2:4; Rm 7:6). Kebebasan yang diterima oleh manusia tidak berarti bertindak sekehendak hati, sebab kebebasan yang demikian itu adalah sebenarnya perbudakan. kebebasan merupakan anugerah dari Allah yang diperuntukkan bagi manusia untuk saling mengasihi, dan melayani Allah dan Tuhan secara nyata (Rm 6:18.22).
3.3. Penderitaan manusia
Penderitaan dan sengsara selalu mengancam kehidupan manusia. Ancaman terhadap eksistensi manusia tidak pernah absen sejak kelahirannya. Banyak penyakit jasmani, kekecewaan dan malapetaka menyertainya hingga hari kematian. Demikian dalam seluruh sejarah umat manusia. Aneka kemajuan dalam segala bidang seringkali dibayar mahal dengan penderitaan.
Adanya penderitaan di dunia ciptaan ini dijadikan alasan paling kuat oleh para ateis untuk menyangsikan adanya Allah Yang Mahabaik dan sekaligus Mahakuasa. Sebab kalau Ia baik dan berkuasa, mengapa penderitaan dan malapetaka yang menimpa begitu banyak orang yang tak bersalah itu, tidak dicegah? Ataukah Allah itu baik? Atau, Ia memang baik tetapi kurang kuat? Dilema itu sudah diajukan oleh filsuf Epikuros pada abad ke-3 sM.
Fakta historis menunjukkan penderitaan telah menjadi pengalaman hidup manusia. Secara manusiawi kita dapat mengatakan bahwa Sang Pencipta sejak semula ikut “bersedih” atas penderitaan. Namun, tentu saja “kesedihan ilahi” itu tidak sama seperti kesedihan manusia. Mungkin dalam arti tertentu kita semakin mengetahui bahwa ada suatu solidaritas yang ditunjukkan oleh Allah terhadap manusia, yakni penderitaan antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan. Solidaritas ini memuncak dalam pengurbanan nyawa yang diterima oleh Yesus secara sukarela demi manusia yang dikasihi itu untuk membebaskan manusia dari segala penderitaan.
3.4. Makna penderitaan bagi manusia
Paus Yohannes Paulus II pernah mengemukakan bahwa penderitaan bukanlah hukuman, tetapi suatu kesempatan untuk membersihkan dosa-dosa kita; secara khusus diarahkan pada kebaikan sama saudara kita: sebagaimana Kristus yang menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang. Dengan Yesus Kristus di hadapan kita, berjalanlah kita dengan lebih bergegas, oleh karena Ia memberikan makna dan arah kepada semua kesusahan atau kepedihan kita.
Yesus telah mengubah secara radikal arti dan nilai dari penderitaan. Penderitaan tidak lagi sekedar tanda kerapuhan dan ketidakmampuan manusia, tetapi menjadi peralihan kepada pemulihan dan kepenuhan realisasi diri. Dengan penyerahan diri Manusia Allah terpenuhilah penyelamatan umat manusia. Ia telah menderita seperti manusia demi manusia. Dengan demikian, derita fisik ataupun moral yang dipersatukan dalam penderitaan Kristus, memiliki kesanggupan untuk mengubahnya dalam diri setiap manusia yang telah diperbaharui. (bdk, Salvifici Doloris, no.23).
Penderitaan mengandung suatu panggilan khusus keutamaan, yang harus dilaksanakan sendiri oleh manusia sesuai dengan kewajibannya. Dalam hal ini merupakan keutamaan ketekunan dalam melaksanakan apa saja yang membingungkannya dan merugikannya. Dengan berbuat demikian maka individu tadi memegang pengharapan, yang memelihara dalam dirinya keyakinan bahwa penderitaan tidak akan merampas martabatnya sebagai seorang manusia, suatu martabat yang erat berhubungan dengan kesadaran akan makna kehidupan. Sepanjang abad dan dari generasi ke generasi telah terlihat bahwa di dalam penderitaan tersembunyi suatu kekuatan yang khusus, yang menarik seseorang secara batin dekata kepada Kristus, suatu rahmat khusus. Berkat rahmat ilahi maka banyak orang kudus, seperti misalnya St. Fransiskus Asisi, St. Ignatius dari Loyola dan orang-orang lain, bertobat secara mendalam. sebagai akibat pertobatan semacam ini bukan hanya individu itu saja yang menemukan arti penyelamatan dari penderitaannya tetapi lebih-lebih ia menjadi orang yang sama sekali baru. Dia menemukan suatu dimensi baru, yang menyangkut seluruh hidup dan panggilannya. (bdk, salvifici doloris, no. 26).
Penderitaan juga mempunyai makna baru bagi orang-orang yang menjadi anggota tubuh Kristus. Mereka turut menderita dalam penderitaan Kristus (2 Kor 1:5, Mrk 10:39, Rm 8:17), dan menganggap dirinya wajib menanggung penderitaan atau terpanggil kepada penderitaan. Apapun bentuk penderitaan orang Kristen, hal itu dapat dianggap sebagai salib yang wajib dipikul dalam rangka mengikuti Yesus di jalan salib-Nya. Penderitaan Kristus pada hakikatnya adalah pada purna dan genapnya untuk membebaskan semua orang (Yes 53:4-6), Ibr 10:14). Penderitaan yang ditanggung oleh setiap pengikut Kristus dapat disebut menggenapkan apa yang belum tercakup dalam penderitaan Kristus (Kol 1:24). Ini semua karena kasih karunia, dan sama sekali bukan upaya keharusan untuk menebus dirinya sendiri. Dengan inilah kita dapat bersekutu dengan Dia dalam penderitaan-Nya.
IV. Kebebasan dan Penderitaan dalam Yesus Kristus
Salah satu pemberian Allah kepada manusia yang tidak pernah diambil Allah kembali adalah “kebebasan”. Allahlah yang memberikan kebebasan kepada manusia dan Allah sendiri tidak pernah mencabut kebebasan itu dari manusia. Allah memberikan kebebasan kepada manusia dengan tujuan baik namun dalam perjalanan waktu kebebasan itu disalahgunakan oleh manusia akibatnya manusia jatuh pada penderitaan. Manusia sadar bahwa kebebasan itu adalah miliknya sendiri dan tidak ada yang bisa menganggu-gungat kebebasan itu dari dirinya maka kebebasan dipergunakan seturut kemauannya. Manusia tidak sadar bahwa penyalahgunaan kebebasan itu bukan saja hanya membuat dirinya menderita tetapi juga ciptaan lainnya.
Penyalahgunaan kebebasan membuat manusia dan ciptaan lainnya menderita. Dan penderitaan ini bukan bukan sekedar membuat manusia itu “sakit” tetapi juga membuat manusia itu mati. Mati secara fisik dan mati secara rohani. Manusia mati karena manusia mengalami keterputusan hubungan dengan sesama dan Tuhan. “mati” menjadi tanda bahwa manusia dalam dirinya sendiri tidak pernah bisa membebaskan diri dari penderitaan yang di alaminya. Artinya penderitaan sebagai akibat penyalahgunaan kebebasan tidak mampu dipulihkan manusia sendiri akibatnya manusia kembali “berteriak minta tolong” kepada PenciptaNya.
Manusia berteriak minta tolong menjadi bukti bahwa manusia tidak mempunyai daya atau kemampuan apa-apa disaat manusia putus hubungan dengan Tuhan dan sesamanya. Kesadaran seperti ini muncul disaat penderitaan datang menimpa dirinya. Kesadaran akan ketidakmampuan membuat manusia tak berdaya, manusia goncang, manusia terpenjara dalam derita hidup. Inilah gambaran manusia yang menderita karena dosa. Rasul paulus dengan jelas berkata maut masuk ke dunia oleh dosa (Rm 5:12) dan Paulus menyebut maut sebagai upah dosa (Rm 1:32: 6:21: I Kor 15:56), dosa juga memimpin pada kematian (Rm 6:16) . Dan maut ini hanya boleh dikalahkan oleh Allah sendiri.
4.1. Yesus Kristus Sang Pembebas
4.1.1. Dalam Perjanjian Lama
Disaat manusia tidak berdaya untuk melepaskan diri dari penderitaan Allah menjalankan peran-Nya sebagai pembebas. Peran Allah sebagai pembebas sudah dimulai sejak jaman perjanjian lama walaupun pembebasan itu hadir secara defenitif pada jaman perjanjian baru. Dalam perjanjian lama Allah memperkenalkan diri sebagai pembebas yakni YHWH, Allah yang menempatkan diri dipihak orang yang dianiaya sambil menjadikan urusan mereka urusanNya . YHWH membebaskan manusia dari segala sesuatu yang membuat manusia itu menderita sebagai akibat dari penyalah gunaan kebebasannya seperti dosa, penyakit, maut, ketakutan dari kuasa setan, perbudakan, penindasan, pembuangan. Sehubugan dengan ini dalam Yes 41:14 sangat jelas dikatakan demikian” terdorong oleh keadilan dan belaskasihNya YHWH dalam perjanjiaanya mendampingi bangsanya (bdk Mzm 130) demi tercapainya damai sejahtera . Memang dengan melihat dosa dan kesalahan manusia, manusia tidak layak lagi untuk dibebaskan namun Allah tidaklah berpikir sebagaimana manusia berpikir.
4.1.2. Dalam Perjanjian Baru
Dalam perjanjian baru Allah sebagai pembebas nyata dalam diri PutraNya Yesus Kristus. Allah mengutus Yesus Kristus Puteranya ke dunia untuk melanjutkan misiNya yang menyelamatkan. Karena Allah tahu bahwa hanya Dialah melalui Putranya Yesus Kristus manusia dan dunia yang diciptakanNya bisa terbebas dari penderitaan. Terbebas bukan berarti sekedar sembuh dari penderitaan tetapi Allah dalam diri Kristus memulihkan manusia dan dilayakkan kembali menjadi anak-anak Allah. Karena itu penebusan Allah mengalir lewat pengurbanan diri PuteraNya yang juga rela menderita sengsara, wafat untuk membebaskan manusia dari belenggu penderitaan.
Dalam kerangka keselamatan manusia Tuhan “memakai” penderitaan untuk menyadarkan manusia dalam mempertahankan kemurnian imanya kepada Allah. Jadi penderitaan merupakan suatu sarana rahmat bagi bangsa manusia. Yesus mau melakukan ini tentu karena Yesus mengasihi manusia.
Yesus hadir di dunia ini adalah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu penderitaan yang diakibatkan oleh dosa. Manusia dibebaskan oleh Yesus dengan berpuncak pada pengurbanan diriNya di kayu salib. Dalam wafat dan kebangkitan Yesus di dalamnya nyata karya keselamatan Allah. Paulus mengatakan bahwa Yesus wafat karena dosa-dosa kita ( Gal 1:4; Rm 8:3) atau karna kita dan untuk kita (I Tes 5:10; Rm 6:6.8) biasanya dikatakan bahwa dengan kata-kata itu dimaksudkan wafat Yesus sebagai kurban untuk melunasi dosa-dosa kita . Pada Mrk sangat jelas dikatakan bahwa anak manusia datang dan memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang.( Mrk 10:45).
4.1.3. Salib Puncak Pembebasan dan Akhir dari Penderitaan
Kematian Yesus untuk membebaskan manusia menunjukkan kepada kita bahwa inti sari iman kita adalah sengsara wafat dan kebangkitan Yesus. Wafat Kristus adalah solidaritas Allah dengan manusia sampai kedalam kematian dan dalam kebangkitan Kristus kesatuan Allah dengan manusia itu dibawa kepada kepenuhannya. Salib dikatakan sebagai puncak pembebasan manusia adalah karena Yesus tidak tanggung-tanggung menjalankan misi penebusannya. Ia menyerahkan Nyawanya untuk memulihkan manusia. Dan darahnya ditumpahkan untuk menebus manusia. Kematian Yesus di salib menjadi akhir dari segala penderitaan manusia artinya bahwa salib menjadi titik balik bagi manusia untuk menemukan kembali kemanusiaanya yang sempat hilang dan tercemari oleh dosa.
Dengan salib-Nya yang mulia Kristus telah memperoleh keselamatan bagi semua manusia. Ia telah membebaskan manusia dari dosa yang membelenggunya. Kristus telah memerdekakan mereka (Gal 5:1). Di dalam Dia kita mengambil kebenaran yang memerdekakan (Yoh 8:32). Demikian santo Paulus mengajarkan sejak sekarang kita bermegah bahwa kita telah masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm 8:21) (KHK 1741)
Di sini jelas bahwa salib telah sungguh-sungguh membebaskan manusia dari penderitaan. Salib menjadi titik balik lahirnya manusia baru karena kebebasan Allah tidak berhenti di dunia tetapi juga kelak di akhirat.
4.1.4. Kebangkitan Yesus Permulaan Hidup Baru
Jelaslah bahwa Yesus membebaskan manusia dari penderitaan dengan penderitaan. Karena itu kebangkitan Yesus dari kematian merupakan Permulaan hidup baru atau ciptaan baru (2 Kor 5:17), kebangkitanNya merupakan; dasar pengharapan kita akan penyelesaian serta penyempurnaan karya pembebasan Allah, kebangkitaNya juga menjadi jaminan ilahi bahwa Allah meneruskan kegiatan pembebasan sampai akhir .
Kebangkitan Yesus tidak hanya sekedar membebaskan manusia dari penderitaan selama manusia berada di dunia ini melainkan juga di akhirat kelak. Itu berarti bahwa kebangkitan itu memiliki daya yang luar biasa karena manusia dapat dibebaskan dari penderitaan sampai kepada kebangkitanya kelak. Hal ini hendak mengatakan bahwa peristiwa salib tidak berhenti pada saat itu juga melainkan sampai saat ini dan bahkan selama-lamanya.
4.2. Makna Kebebasan Dan Penderitaan dalam Iman Kristiani
Kebebasan manusia sering menyebabkan manusia tidak peduli untuk memenuhi kewajibannya sebagai ciptaan Allah, sebagai putra Allah yang terkasih dan sebagai manusia baru. Sampai saat ini akibat dari ketidaksetiaan manusia terhadap Tuhan manusia sendiri tidak sanggup membaca tanda-tanda jaman dengan mata iman. Ketidaksetiaan manusia kepada Tuhan terungkap dari penyalahgunaan kebebasan yang Tuhan berikan kepada manusia, akibatnya manusia itu sendiri menderita. Karena penderitaan manusia dan ciptaan, Allah dalam diri Putranya harus juga menderita guna membebaskan manusia dari penderitaanya itu. Di sini ada satu paradoks yaitu bahwa pemberontakan dan ketidaksetiaan manusia justru dibalas Tuhan dengan suatu janji keselamatan. Kelahiran, penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus merupakan puncak terpenuhinya janji keselamatan Tuhan kepada manusia.
Untuk jaman kita sekarang masih banyak orang yang menggunakan kebebasan semaunya tanpa memikirkan resikonya atau bahkan manusia tahu resiko perbuatannya tetapi ia menutup mata untuk itu. Ia tidak peduli dengan penderitaan yang akan terjadi sebagai akibat dari penyalahgunaan kebebasan itu.
Di tengah dunia modern manusia sering disilaukan oleh keuntungan materil, kemewahan hidup dan nafsu kuasa yang membutakan mata mereka terhadap penderitaan dan kesengsaraan sesamanya, lalu berpura-pura bermain dan berperan sebagai manusia sosial dengan sumbangan-sumbangan pesta dan resepsi. Semuanya dilakukan supaya dipuji, demi gengsi, agar menenangkan situasi. Inilah gambaran-gambaran penyalahgunaan kebebasan untuk jaman kita sekarang. Manusia tidak peduli akan penderitaan sesamanya dan ciptaan lainnya. Hal seperti itu bisa terjadi di saat manusia tidak bisa mengerti makna penderitaan Yesus dan sengsaranya. Jika manusia mengerti seharusnya manusia bisa menjadikannya sebagai sekolah.
Pederitaan Yesus dan sengsaraNya seharusnya menjadi suatu sekolah untuk berkorban dan menguduskan diri bagi manusia yang sadar. Manusia harus disadarkan bahwa sengsara dan penderitaan Yesus sesungguhnya adalah akibat dosa kita manusia. Meski berat sengsara yang di deritaNya di salib,Yesus tidak pernah mundur hanya demi keselamatan manusia. Maka manusia harus semakin paham bahwa sungguh jahatlah dosa itu. Karena itu sebagaimana santo Paulus menasehati umatnya supaya bertekun dalam iman setiap kali mereka mengalami penderitaan dan sengsara . Kita harus belajar untuk berani menghadapi godaan dan cobaan. Kita harus berani menjauhkan setiap kesempatan yang dapat membawa kita ke dalam dosa. Kita harus memanfaatkan kebebasan itu demi kebaikan manusia dan ciptaan dan demi kemuliaan Allah.
V. Penutup
Kita telah memahami apa arti dari kebebasan dan penderitaan dalam hidup manusia sebagai ciptaan Allah. Kebebasan yang diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan-Nya tidak lain dan tidak bukan hanyalah semata-mata untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sebab dengan kebebasannya, manusia diinginkan untuk melayani dan mencintai ciptaan lainnya sehingga lewat kebebasannya Allah juga dimuliakan dan diagungkan. Namun, lewat sejarah kehidupan manusia, makna kebebasan rupanya tidak dipertanggungjawabkan oleh manusia sendiri sehingga muncul suatu realitas manusia yang tak terelakkan, yakni kelahiran sebuah penderitaan. Penderitaan lahir dari sebuah ketidak-bertanggungjawaban manusia akan makna kebebasan itu sendiri. Penderitaan menjadi silih berganti baik itu lewat perbudakan maupun lewat perhambaan kuasa si jahat lainnya. Dengan menderita, manusia kembali berteriak-teriak menyerukan pertolongan Allah dan tak henti-hentinya manusia memohon agar penderitaan dijauhkan dari kehidupan manusia. Oleh karena cinta-Nya yang amat besar terhadap manusia, Allah hadir dalam pribadi Yesus yang ikut menderita bersama manusia. Allah kini solider dan peduli pada penderitaan manusia. Dengan kesolideran-Nya yang maha besar, Yesus hadir dan membebaskan kembali penderitaan manusia dengan cara mengorbankan diri-Nya menyerahkan diri-Nya bagi manusia. Maka dengan semangat cinta yang ditunjukkan-Nya, Allah mengharapkan kembali kesetiaan dan hormat dari manusia.
Daftar Pustaka
Dister, Nico Syukur, Teologi Sistematis 2, Yogyakarta: Kanisius, 2004
Groenen, C. Dr. OFM., Soteriologi Alkitab, Keselamatan Yang Diberitakan Alkitab, Yogyakarta: Kanisius, 1989
Yohanes Paulus II, Tentang Sakit dan Derita, Maumere: Ledalero, 2010
Handoko, Petrus Maria Dr. CM., Dicipta Untuk Dicinta: Antropologis Teologis Teologis Fundamental, (Diktat), Malang: STFT Widya Sasana 1996
Kleden, Paul Budi, SVD, Membongkar Derita Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi, Maumere: Ledalero, 2006,
Klein, Paul, Kebebasan Kreatif Menurut Nikolay Berdiayev. Maumere: Ledalero, 2008
Manehat, Piet, Butir-Butir Mutiara Kehidupan Kristiani, Jakarta: Yanense Mitra Sejati, 1996
Dokumen
Dokumen KV II dalam Gaudium et Spes artikel 17., Jakarta: Obor 1993
Konfrensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Buku Informasi dan Refrensi, Yogyakarta: Kanisus, 1996
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992
A. Heuken, SJ, Ensiklopedi Gereja III, Jakarta: Cipta Loka Caraka 1993
Konferensi Waligereja Indonesia, Katekismus Gereja Katolik, Ende: Percetakan Arnoldus, 1993.
Langganan:
Postingan (Atom)