FENOMENA KEHADIRAN KAUM IBU DALAM SETIAP KEGIATAN LINGKUNGAN DI LINGKUNGAN ST YAKOBUS,
PAROKI ST ANDREAS TIDAR – MALANG
By: lucius Tumanggor, SVD
I. PENDAHULUAN
Selama bulan Oktober 2009 yang lalu, penulis mengikuti seluruh kegiatan lingkungan di lingkungan St. Yakobus, paroki St. Andreas Tidar-Malang. Kegiatan yang saya ikuti adalah doa lingkungan dan doa Rosario setiap malam. Dalam kegiatan ini, penulis melihat dan mengamati bahwa ada satu fenomena yang mendasar dalam kegiatan lingkungan ini, yakni kehadiran kaum ibu-ibu lebih dominan.
Dari sekitar 30 orang yang hadir setiap malamnya, 24-25 orang adalah kaum ibu-ibu yang rata-rata usia pernikahannya sudah di atas lima tahun. Sedangkan kaum bapa-bapa paling tinggi hanya sekitar 5-6 orang. Hampir dalam setiap kegiatan lingkungan kaum muda (remaja) lingkungan tidak ada. Dalam penelitian ini, kami hanya memusatkan perhatian pada kehadiran kaum ibu khususnya ibu-ibu yang usia pernikahannya sudah di atas lima tahun.
Salah satu yang menjadi persoalan/masalah dalam penelitian ini adalah mengapa setiap kegiatan lingkungan hanya didominasi oleh kehadiran kaum ibu-ibu? Di mana kaum bapa-bapa?, dimana kaum remaja dan anak-anak? Mengenai kehadiran ibu-ibu, banyak orang berpendapat bahwa pendominasian ini oleh karena: pertama, kaum ibu-ibu lebih banyak memiliki waktu luang. Kaum ibu-ibu senang bertemu dengan teman-temannya untuk tukar pikiran dengan teman-temanya atau boleh saja untuk “menggosip”(ini kelihatan pada waktu mereka sudah mengumpul banyak yang suka omong-omong atau ribut saat kegiatan doa sedang berlangsung). Kedua, kaum ibu ingin hanya sekedar keluar dari rumah sebab seharian mereka sudah bekerja di rumah, dengan kata lain hanya ingin sekedar “pelarian” dari rumah.
Menjadi pertanyaan untuk kita adalah apakah benar faktanya demikian? Pertanyaan ini pulalah yang hendak digali oleh penulis untuk melihat fakta yang sebenarnya dalam paper ini. Penelitian ini juga diharapkan “sedikit” bisa membantu dewan pastoral paroki untuk mempertimbangkan peranan kaum wanita-khususnya kaum ibu-ibu dalam pelayanan maupun dalam penangan seksi-seksi kegiatan gerejani. Kaum perempuan tidak bisa lagi disebut sebagai nomor dua dalam kebijakan publik khususnya dalam kehidupan menggereja kita. Kemampuan perempuan tidak bisa hanya dilihat sebagai seksi yang bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga paroki. Kemungkinan, kehadiran ibu-ibu juga bisa menjadi pertimbangan bagi gereja untuk melibatkannya dalam urusan tugas pelayanan seperti jabatan prodiakon dalam kehidupan menggereja kita
II. PENDASARAN TEORITIS TENTANG KEHADIRAN
Kehadiran Menurut Gabriel Marcel
Gabriel Marcel adalah seorang filosof berkebangsaan Perancis. Dia dikenal sebagai pemain drama dan komposer musik. Dalam gagasan filosofisnya, banyak orang mengatakan bahwa Gabriel Marcel adalah seorang eksistensialis dan dekat dengan kaum personalis. Mengapa Ia dikenal demikian? Karena ia menitikberatkan filosofisnya pada keadaan manusia. Dalam pemahamannya, filsafat dikarakterisasi pada sebuah perasaan tragis manusia, tetapi juga sebuah pengharapan dan misteri ada. Pada tahun 1929 Ia bergabung dengan Gereja Katolik Roma. Walaupun demikian, dia bukanlah seorang Thomistik, melainkan tetap mendekatkan diri pada kaum eksistensialis dan personalis.
Setelah tahun 1949, ia terang-terangan menunjuk dirinya sebagai seorang neo-sokratik dan menegaskan mengenai karakter berpikir filofisnya yang adalah terbuka dan dialogis. Terbuka dan dialogis hendak mengatakan bahwa filsafat pada dasarnya adalah ilmu yang siap dan terbuka untuk didiskusikan dan didialogkan dalam kehidupan konkret demi sebuah urgensi atau keperluan ada. Marcel menolak filsafat sebagai suatu sistem. Sistematisasi mau tidak mau akan mematikan pemikiran yang hidup. Pernyataan ini menghantar kita untuk mengerti mengapa setelah tahun 1949 ia menunjuk dirinya sebagai seorang neo-sokratik? Kemungkinan besar bahwa dengan nama itu ia hendak menjadikan dirinya sebagai seorang yang senantiasa sedang mencari dan bertanya-tanya bukan untuk mensistematisasi filosofis dalam bentuk baku.
Kehadiran merupakan keterarahan diri yang satu bagi yang lain (perjumpaan “Aku” dan “Engkau”)
Salah satu kata kunci untuk melukiskan hubungan manusia dengan sesamanya adalah kehadiran (presence). Menurut Marcel misteri Ada tidak tampak dengan cara yang semestinya, kalau tidak diselidiki dri sudut intersubyektivitas, artinya relasi antar-manusia. “Ada” selalu berarti “Ada bersama”. Istilah kehadiran (presence) bukanlah berarti berada di tempat yang sama. Kata ini tidak boleh dimengerti secara “obyektif”, dengan menerapkan kategori-kategori ruang dan waktu, tetapi lebih pada keterarahan diri yang satu bagi yang lain. Atau dapat dikatakan bahwa kehadiran itu perjumpaan “Aku” dan “Engkau”.
Marcel memahami bahwa istilah relasi “Aku” dan “Engkau” hendak menunjukkan bahwa sesama manusia tampak bagi “saya” justru sebagai sesama. Sesama hadir bagi “saya” bila ia lebih dari salah satu individu; bila “saya” sungguh-sungguh mengadakan kontak dengan dia sebagai persona. “kehadiran” ini dapat diwujudkan, biarpun dalam ruang kita saling berjauhan. Kehadiran direalisasikan secara istimewa dalam cinta. Di sini Aku dan Engkau mencapai taraf “Kita”. Pada taraf kita, Aku dan Engkau diangkat menjadi suatu kesatuan baru yang tidak mungkin dipisahkan ke dalam dua bagian. Dengan demikian timbullah kebersamaan. Kebersamaan yang sungguh-sungguh komunikatif.
Dalam pengkajian selanjutnya, Marcel menegaskan bahwa kebersamaan ini menurut kodratnya harus berlangsung terus. Karena itu dalam pengalaman cinta terkandung juga bahwa “Aku” mengikat diri dan tetap setia (fidelity). Kesetian ini disebut sebagai “kesetiaan kreatif” (creative fidelity). Kesetiaan adalah sentral bagi relasi intersubyektif. Kesetiaan melibatkan adaku yang sekarang bagi orang lain. Kesetiaan melibatkan komitmen tanpa syarat dan ada yang bersedia bagi orang lain. Aksi dari kesetiaan kepada orang lain dipahami sebagai kerendahan hati. Kesetiaan adalah juga sebuah persembahan diri kita bagi orang lain. Kesetiaan dialami sebagai hati dari batas egosentritas kita sendiri. Demikian kesetiaan mengarahkan kita semakin beriman kepada yang absolut, Tuhan.
Kehadiran Mengarahkan Kita Beriman Pada Batas Diri yang Absolut/ Tuhan
Marcel memberikan suatu adanya pengharapan. Dia melihat bahwa refleksi filosofis tentang kehadiran orang lain mengahantar kita kepada kehadiran dari “yang lain” secara istimewa yaitu Allah. Kehadiran yang dijiwai oleh kesetiaan justru mengahantar kita untuk semakin mengenal Allah. Kesetiaan adalah bagian dari iman. Dalam iman, kita akan menemukan kemungkinan dan jaminan dari kesetiaan kita. Marcel pernah mengatakan bahwa “saya” dibimbing/ dihantar pada Ada yang dari awal dan “saya” menjadi penuh sebagai manusia dalam kesatuaan dengan orang lain dan Tuhan.
III. SITUASI
Lingkungan St. Yakobus adalah salah satu bagian dari paroki St. Andreas, Tidar-Malang. Lingkungan ini berada di wilayah perumahan jalan Tidar menuju puncak Tidar. Secara sosial-ekonomi, para anggota lingkungan rata-rata sebagai pengusaha, karyawan-karyawati dan pegawai. Secara ekonomi, anggota lingkungan merupakan kelas menengah ke atas. Pada umumnya anggota lingkungan St. Yakobus berasal dari etnis Tionghoa dan Jawa. Dalam keseharian mereka menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
Lingkungan ini adalah lingkungan yang harmonis dan peduli kepada masyarakat yang ada di wilayah mereka. Mereka biasanya mengadakan aksi social seperti bazar murah, pengobatan gratis bagi masyarakat yang ada di wilayah mereka. Lingkungan ini terdiri dari 58 kepala keluarga yang terdiri dari 144 dewasa, 47 orang remaja, dan 16 orang anak-anak. Dari 58 kepala keluarga ini, lingkungan kini dibagi menjadi 8 blok. Setiap blok terdiri dari 8 Kepala keluarga. Setiap blok memiliki ketuanya sendiri untuk mempermudah kelancaran kordinasi dengan pengurus-pengurus lingkungan.
Dengan adanya blok-blok ini, para seksi atau koordinator lingkungan sangat terbantu untuk mempermudah urusan kegiatan. Misalnya untuk menentukan tempat (rumah keluarga untuk kegiatan doa) pada hari tertentu bisa dditentukan dengan cepat. Demikian jga dengan halnya tugas-tugas liturgy dari paroki. Koordinator lingkungan cukup hanya mengontak para ketua blok untuk menentukan siapa-siapa yang akan bertugas di paroki seperti lektor, mazmur, kolektan dan lain sebagainya.
Lingkungan St. Yakobus sangat welcome terhadap siapa yang mau bergabung dengan mereka. Mereka juga sangat mengedepankan hospitality dalam setiap orang yang hendak memiliki keperluan dengan mereka. Sejauh penulis alami, mereka sangat antusias untuk mendukung dan membantu kepentingan penelitian ini. Mereka sangat bersedia diajak untuk menjawab pertanyaan dan juga wawancara yang kami adakan di rumah-rumah mereka.
Mereka mau mengorbankan waktu kepada kami demi kelancaran tugas dan tanggung jawab kami sebagai pelajar. Mereka juga mau berterus terang apa adanya tentang kehidupan lingkungan mereka saat ini. Dengan keterus-terangan mereka, penulis merasa mendapat banyak masukan untuk menulis paper ini. Penulis tidak mengalami kesulitan untuk bisa beradaptasi dengan mereka.
IV. ANALISA KULTURAL/KONTEKSTUAL
Dalam sebuah wawancara saya membuat suatu pertanyaan dan menangkap beberapa tanggapan dan reaksi dari subjek penelitian kami. Di bawah ini, penulis mencantumkan apa yang disampaikan oleh mereka secara dominan.
1. Mengapa kehadiran ibu-ibu lebih dominan dalam kegiatan lingkungan? Kebanyakan dari kaum ibu yang saya wawancarai mengatakan bahwa suami-suami tidak mau aktif; Bagi mereka satu kali ke gereja itu sudahlah cukup; Bapa-bapa itu kerja sampai malam; ibu-ibu itu tidak terlalu sibuk. Punya kesibukan sih tapi hanya membantu suami aja. Ibu-ibu banyak kerja tetapi tidak mungkin sampai malam; Lingkungan kurang disukai oleh bapak-bapa; Bapa-bapanya malas; Bapak-bapak itu mungkin berpikir batasnya hanya sekitar gereja aja; Mungkin kurang kesadaran; Saya melihat bahwa dalam diri bapak-bapak itu kegiatan iman itu sepertinya hanya urusan ibu-ibu aja, maka yang berperan pun hanya ibu-ibu. Ada beberapa reaksi yang saya tangkap saat para ibu menjawab pertanyaan, yakni: sambil menujuk ke arah suaminya …. Itu suami saya juga tidak mau aktif; dia ngomong sambil jalan ke dapur ambilkan air minum…. Kalau saya melihat cowok-cowok itu sibuk kerja frater ; sambil garok-garok kepalanya seorang ibu berkata, ada tetangga saya itu frater pulangnya hingga sampai jam 1-2 malam karena kerja ikut orang. Ini memang persoalan untuk kita. Carilah dahulu kerajaan Allah…. Tapi ya gimana ya; sambil menggelenggeleng kepala sambil mengatakan Syukur kalau bisa datang ke gereja… kemudian bapaknya datang dari samping sambil tertawa dan menambahkan, maklum aja frater… surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.
2. Mengapa ibu rajin ke lingkungan? Dari beberapa subjek/informan member tanggapan sebagai berikut: saya rajin karena dorongan hati; Saya menyadari itu karena sudah merasakan banyak berkat dr Tuhan; karena Tuhan melakukan banyak hal terhadap diri saya; Lingkungan itu bagaikan keluarga yang ke dua untuk saya frater!. Saya juga kangen ama teman-teman. Lingkungan itu sebagai tempat persahabatan; Ini murni karena niat, saya butuh siraman rohani. Lingkungan menjadi tempat untuk berkembang dalam iman. Iman tanpa perbuatan bisa dilihat dari sanalah. Lingkungan tempat pertumbuhan iman; saya sangat senga dengan pendalaman iman, karena pengetahuan iman saya bertambah; sebenarnya saya rindu untuk dengar firman Tuhan; ingin membalas kebikan Tuhan. Tetapi saya selalu merasa kurang untuk membalas kebaikan Tuhan; Saya kalau tidak ke lingkungan tidak enak rsanya. Tidak enak karena ya… tidak taulah.pokoknya tidak enak ajalah. Lingkungan itu seperti keluraga yang ke dualah; Saya rajin karena niat dan ingin dekat dengan Tuhan. Kemudian saya juga melihat reaksi dari beberapa informan, sebagai berikut: mereka menjelaskan pertanyaan saya sambil tangan di gerekakkan (seperti main puisi); kelihatan mereka bersemangat dan berkobar-kobar.
3. Apa jabatan ibu? Beberapa ibu adalah seorang karyawati sebuah perusahaan swasta; ibu rumah tangga sambil buka salon; wiraswasta; bagian kesehatan; pensiunan. Pada umumnya saya melihat reaksi mereka adalah percaya diri dan bangga pada jabatannya.
4. Bagaimana ibu membagi waktu untuk lingkungan? Ada beberapa tanggapan yang saya temukan yakni, seorang ibu menjelaskan jadwalnya dengan mengatakan: Setiap jam 6-20 sampai 15.45 saya sudah bekerja. Senin-jumat kerja jam 6.20-15.45. tapi setiap jumat-sabtu hanya bekerja jam 6.20-12.45 aja. Dengan waktu seperti ini, sebenarnya dapat dikatakan padat, dan saya bisa memberikan waktu untuk kegiatan pelayanan di luar dari waktu ini; keluarga sangat mendukung. Kalau saya tidak memasakpun mereka memaklumi sehingga sewaktu-waktu bisa ditinggal; di rumah selalu saya memberi perhatian, lalu pergi menghadiri kegiatan lingkungan. Dalam pengamatan saya, saya menagkap ada reaksi dari antara mereka kelihatan menjelaskan jadwalnya dengan menghitung pakai jari-jarinya.
5. Apa yang sudah ibu buat dalam mengembangkan lingkungan? Ada beberapa informan menaggapinya dengan mengatakan Saya berhasil menjadikan teman-teman semakin percaya diri. misalnya banyak dari anggota lingkungan kami yang sudah mau untuk memberikan renungan/kotbah saat doa lingkungan; saya kerap membawa firman, saya sering syaring tentang hidup saya, seperti bagaimana Tuhan menolong saya; mengadakan kunjungan, kunjungan ke rumah sakit, mengunjungi orang yang tidak ke gereja, mendapingi romo yang mau memberikan komuni; saya bendahara saya pasti sibuk bikin kwintansi, dengan kegiatan ini maka dipilih jadi ketua; Saya dulu ikut mengembangkan lingkungan ini menjadi tiga lingkungan. Reaksi yang saya tanggap dari penampilan beberapa informan yakni berbicara sambil duduk dikursi dengan kaki menyilang dan tangan aktif ikut bergerak saat berbicara.
6. Bagaimana biasanya ibu mengembangkan kerohanian? Tanggapan dari informan umumnya sebagai berikut: Saya melihat ada kelemahan dalam diri saya. Saya tidak bisa membaca KS dengan rutin, tapi kalau saya rindu saya membacanya; Sebenarnya saya mempunyai satu cita-cita yaitu ingin merangkul semua orang; Saya lebih melihat segi positf orang lain, dan saya berusaha ingin mengayomi siapapun; saya tidak punya jam-jam khusus untuk Tuhan, namun untuk Rosario saya tiap hari, saat di jalan pergi kekantor. Intensinya yaitu untuk suami, anak-anak dan orang tua. Untuk hari jumat saya berdoa untuk hal-hal yang sudah tidak kelihatan, seperti arwah-arwah; Saya selalu berdoa dan berdevosi kepada Maria Sima untuk mendoakan jiwa-jiwa. Inilah keyakinan saya pada bunda Maria, kehadirannya nyata dalam kehidupanku. Doa Rosario itu lebih mengena saat saya berdoa sendiri; Dengan doa, baca kitab suci, baca buku-buku kerohanian; Saya rajin misa setiap pagi di Jayagiri. Sakitpun tidak jadi masalah; di jalan saya selalu berdoa Rosario; Setiap bangun pagi saya selalu baca kitab Tawarikh I dan injil di Gereja, dan baca Mazmur 51: pengakuan dosa, habis ngaku dosa baru no 11. Jadi setiap bangun pagi saya wajib doa mazmur 51. Bacaan wajib mzm 11, 24, 95, 103, 121, 146, 150. Dan 1 Tawarikh 4:10. Pokoknya bagi Tuhan saya harus memberikan banyak waktu. Saya sadar bahwa Tuhan banyak memberikan waktu dan kesempatan bagi saya. Namun ada reaksi yang saya perhatikan dari salah satu informan kelihatan agak sedih karena teringat masa lalu ada pengurus yang suka memilih-milih orang; bangga pada diri dan datang sambil menujukkan bacaan-bacaan kitab sucinya setiap hari, dan menujukkan teks-teks kitabsuci yang sudah di foto kopynya.
7. Apakah menurut anda kaum ibu lebih beriman dr pada kaum bapak saat ini? Tanggapan mereka sebagai berikut: Ya ibu-ibu itu lebih beriman dari bapak-bapak; Kalau bapak-bapak yang keluar cendrung politiknya; Kalau bapak-bapaknya disuruh jadi pengurus tidak mau. Karena mungkin mereka jarang doa; Sebetulnya tidak juga. Tetapi aku tidak tahu kenapa bapak-bapaknya. Anak-anak saya selalu aktif dalam setiap kegiatan gereja; Ibu-ibu lebih beriman dari bapa-bapak. Bapak itu hobinya olah raga, gereja itu kayaknya urusan perempuan aja; Belum tentu. Seperti suami saya setiap jam 10 malam selalu berdoa sendiri tapi Seperti suami saya kalau tidak diajak ke gereja ya tidak pergi ke gereja. Aku tidak tahu mengapa cowok-cowok itu melempem; saya melihat bahwa iman ibu-ibu itu lebih hidup, lebih besar dari pada bapa-bapa; Pemahaman bapa-bapa terhadap agama sangat kurang; Mereka tidak mau ikut terlibat apalagi mengikuti kegiatan pendalaman iman. Pendalaman iman, jagan harap frater. Misalnya kalau ada tanggal-tanggal merah atau hari raya itu hanya untuk hari libur saja. Jangan harap itu bisa dijadikan untuk belajar iman. Ya… hari raya hanya untuk hari libur aja; Kalau saya tidak ke gereja maka semua anggota keluarga juga pasti tidak ikut ke gereja. Sayalah di kelurga menjadi penggerak untuk pergi ke gereja. Kalau suami dan anak saya ini kerap kurang sadar.. kalau mami tidak ke gereja ues…. Untuk semua. Ada reaksi dari informan dengan menunjukkan sikap tertawa sedikit Kalau dalam kegiatan lingkungan, jumlah bapa-bapa bisa dihitung dengan jari…. (dia menghitung sambil tertawa dan geleng-geleng kepala).
8. Bagaiaman perasaan anda kalau anda tidak mengikuti kegitan lingkungan? Beberapa tanngapan informan muncul sebagai berikut: kalau saya tidak pergi perasaan saya tidak enak, tiak tahu kenapa. Tidak enak terhadap diri sendiri; Saya kalau tidak ke lingkungan tidak enak rasanya. Tidak enak karena ya… tidak taulah.pokoknya tidak enak ajalah. Lingkungan itu seperti keluraga yang ke dualah; Kalau saya lihat para ibu, apa lagi saya kalau tidak datang ke lingkungan, rasanya kayak tidak enak, ada yang kurang, bahkan ke gerja setiap haripun kalau tidak ikut sekali rasanya tidak enak. Namun ada reaksi dari informan sangat kelihatan sambil tidak puas sambil menarik nafas…. Dengan berkata ahhhh, gitulahhh frater.
9. Apa yang anda ikuti dalam kegiatan lingkungan? Umumnya para informan menanggapi dan menjawab setiap bulan dua kali pendalaman iman; satu kali untuk misa lingkungan; doa Rosario setiap hari pada bulan Mei dan Oktober; pemberkatan rumah; ibadat arwah; kegiatan social mengadakan pengobatan gratis, kerjasama dengan dokter-dokter yang ada dalam warga sendiri; mengadakan basar murah; masa adven, kita selalu mengadakan pendalaman iman satu kali setiap minggu. Namun ada informan memberikan suatu reaksi dengan mengatakan Yahh……. saya itu mengurusi mulai dari tempat sampai dengan urusan kursi-kursinya frater (sambil tarik nafas seperti mendesah).
V. REFLEKSI TEOLOGIS
Kehadiran adalah relasi cinta yang membahagiakan antara aku dengan Allah dan sesama (Mat 22:37-39)
Ketika Marcel menyebut kehadiran sebagai relasi antar manusia yang selalu dibangun dalam kesetiaan yang kreatif, Ada – bersama, perjumpaan Aku – Engkau dalam cinta, maka dalam refleksi teologis, kehadiran dapat dipahami sebagai perjumpaan manusia yang dipenuhi dengan cinta. Cinta terhadap Allah dan juga cinta terhadap sesama adalah ciri khas dari sebuah kehadiran jati diri seorang Kristen. Yesus pernah berkata “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:37-39).
Karena relasi adalah sebuah cinta, maka perjumpaan kita satu dengan yang lain hendaknya selalu diikat dengan kesetiaan yang harmonis. Dengan kata lain, perjumpaan yang satu terhadap yang lain merupakan ungkapan persaudaran Aku –Engkau dalam ikatan cinta-Nya. Berbicara dalam konteks persaudaraan, gereja perdana pernah menjadikan cinta sebagai dasar persekutuan mereka. Dalam mewujudkan cinta yang harmonis terhadap sesama, mereka berkumpul dalam satu persekutuan, hidup bersama dalam komunio yang ditandai dengan sehati dan seperasaan. Sehati dan seperasaan berwujud dalam bentuk milik bersama. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama”. Bahkan dalam pengakuan mereka, bahwa ada dari mereka yang selalu menjual harta miliknya untuk dibagi-bagikan bagi mereka yang kekurangan (bdk, Kis 44-46).
Lukas menampilkan hal ini untuk menegaskan bahwa relasi dalam kehidupan jemaat perdana sangat dipenuhi oleh cinta yang mesra tanpa ada yang merasa kekurangan ataupun tidak diperhatikan. Dengan kata lain, Lukas hendak menampilkan bahwa relasi itu sangat indah dan kehadiran (satu dengan yang lain) itu sangat membahagiakan atau menyenangkan hidup. Selain terhadap sesama, jemaat perdana juga mengarahkan relasi cintanya kepada Allah. Mereka hidup sehati dan sejiwa dalam persekutuan untuk memuliakan Allah. Mereka berpartisipasi untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat di mana mereka hidup. Dalam kisahnya, Lukas mengatakan bahwa jemaat perdana berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecah-mecahkan roti di rumah, bergembira dengan tulus hati sambil memuji Allah. Mereka semua disukai seluruh masyarakat setempat, dan Allah tetap menambah jumlah mereka. (bdk. Kis 2: 46-47).
Lukas menujukkan bahwa relasi yang harmonis itu begitu perlu dan penting dalam kehidupan bersama. Bagi Lukas, kehidupan bersama tidak mungkin bisa eksis jikalau relasi tidak dimaknai dengan relasi cinta. Maka bagi Lukas, relasi yang harmonis terhadap sesama dan Allah, dengan sendirinya akan menuai sukacita dan kegembiraan di mana kita hidup. Jadi Kehadiran secara teologis dapat dipahami sebuah relasi cinta yang membahagiakan antara aku dengan sesama dan juga dengan Allah sendiri.
V.I. MENYAJIKAN PERUMUSAN BARU (PRAKTISNYA)
Saat kita melihat fenomena kehadiran kaum ibu di dalam kegiatan lingkungan, pikiran kita tersentak pada sebuah pertanyaan tentang mengapa setiap kegiatan lingkungan selalu didominasi kaum ibu? Apakah ini sebuah fakta bahwa gereja kita kini sudah berwajah “keibuaan” (bersifat feminis)? Pendominasian kaum perempuan dalam menghadiri kegiatan lingkungan ataupun dalam kehidupan menggereja bukanlah karena kaum ibu memiliki ketersediaan waktu lebih banyak dari kaum bapak, atau karena mereka ingin keluar dari rumah demi menghindari kejenuhan belaka, melainkan kami menemukan alasan mereka oleh karena sebagai ungkapan iman yang utama dan terutama. Ketika kehidupan meggereja saat ini lebih dominan diminati oleh kaum ibu, maka langkah apa yang perlu diperhatikan oleh gereja Katolik, paroki saat ini? Menurut Penulis langkah yang kita persiapkan saat ini, yakni: pemberdayaan peranan perempuan dalam pelayanan gereja tanpa ragu-ragu misalnya sebagai ketua dewan satu paroki dan juga sebagai prodiakon dalam paroki.
Perempuan sebagai ketua dewan satu pastoral paroki
Masyarakat Indonesia masih kental dengan budaya patriakal. Budaya ini masih sangat kuat dalam kehidupan menggereja kita dewasa ini. Mungkin kita masih kaget kalau mendengar seorang perempuan tampil sebagai ketua satu dewan pastoral paroki. Mengapa? Karena kita sudah terbiasa dengan sebuah sosok ketua dewan pastoral paroki adalah seorang bapak yang berwibawa, pintar dan tegas. Bahkan pola pikir kaum perempuan sendiri telah terbiasa dengan konsep bahwa wibawa sejatinya ditujukan bagi kaum bapak.
Ini akan berdapak pada sebuah keputusan bersama untuk membentuk dewan pastoral paroki sendiri. Kemungkinan akan ada konsep (seolah keputusan bersama) umat paroki yang mengatakan bahwa ketua dewan satu pastoral paroki haruslah kaum bapak. Bila ini yang sudah muncul maka, sampai kapanpun kaum perempuan tidak akan pernah menjadi ketua satu dewan pastoral paroki. Bahkan bila tidak ada calon pun dari kaum bapak, atau bahkan tidak ada yang mau mencalonkan diri, kita akan mati-matian untuk membujuk agar ada calon dari kaum bapak, bila penting memaksanya lewat bujuk rayuan manis kita.
Menjadi petanyaan untuk kita apakah kita lebih mengutamakan bujukan atau “memaksa” para bapak supaya sekedar mau daripada seorang ibu yang aktif dan tulus melayani gereja yang sejatinya dia juga memiliki kompetensi dan punya semangat untuk memimpin? Apakah kompetensi seorang ibu bisa dikalahkan oleh seorang semangat bapak yang dipilih berdasarkan bujukan dan “paksaan” kita?
Perempuan sebagai “Diakon-awam”
Istilah diakon-awam tidaklah sama dengan jabatan Diakon yang sudah masuk dalam golongan klerus. Diakon-awam adalah seseorang yang diangkat atau dilantik oleh uskup (atau seijin dari pastor paroki) dalam satu upacara –pemberkatan khusus dan diberi tugas serta wewenang untuk bidangnya dengan jangka waktu seperti ditentukan oleh uskup. Salah satu yang jarang sekali kita saksikan di paroki atau di keuskupan kita ini adalah perempuan atau kaum ibu yang bertugas untuk membagi komuni pada hari minggu. Di keuskupan ini khususnya di paroki-paroki kita, kita masih menyaksikan tugas tersebut dilakukan oleh kaum biarawan-biarawati, atau para frater-bruder.
Sejauh pengamatan penulis, memang ada beberapa paroki yang mempercayakan pembagian komuni kepada para awam tetapi umumnya hanya untuk kaum bapak saja. Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa ada pembagian seperti ini? apakah pembagian ini didasarkan oleh karena “kesucian”? Apakah kekudusan atau kesucian para ibu-ibu kalah dengan kesucian kaum biarawan-biarawati? ataukah kesucian kaum bapak melebihi kesucian kaum ibu? Bukankah bapak dan para biarawan-biarwati juga merupakan kelompok awam? Mengapa tidak kaum ibu?
VI. PENUTUP
Fenomena kehadiran kaum ibu-ibu dalam kegiatan lingkungan dapat dikatakan adalah sebuah kesadaran diri kaum perempuan yang dalam. Kegiatan lingkungan adalah sebuah untuk mengembangkan iman mereka. Kehausan akan relasi dengan Tuhan bisa terpenuhi dengan kegiatan-kegiatan lingkungan dalam doa bersama, mendengarkan firman Tuhan, misa di lingkungan, pendalaman iman serta memberikan pelayanan kepada orang lain lewat kegiatan sosial dalam masyarakat. Kesadaran akan pentingnya iman ini, para ibu tidak enggan untuk memberikan diri serta mengorbankan waktunya lebih banyak. Mereka tidak ada niat dan maksud lain pergi kelingkungan selain demi menjawabi cinta Tuhan yang telah mereka terima.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar